Terima Kasih Anda Telah Berkunjung di Blog Obet Nego Y. Agau

Senin, 20 Mei 2013

Hubungan antara Filsafat, Ilmu Pengetahuan dan Agama



Hubungan antara Filsafat, Ilmu Pengetahuan dan Agama

Seseorang tidak harus menjadi seorang Filsuf yang lebih baik dengan cara lebih banyak mengetahui fakta-fakta ilmiah. Asas-asas, metode-metode serta pengertian-pengertian umumlah yang harus ia pelajari dari ilmu, jika ia tertarik kepada filsafat.
(Bertrand Russell)[1]

Melalui pernyataan Russell di atas, kita lihat bahwa seorang filsuf akan menjadi kalau ia tidak mampu mengetahui asas-asas, metode-metode atau pengertian-pengertian yang bersifat umum dari ilmu. Filsafat merupakan sebuah refleksi yang dibuat secara terus menerus tentang dunia, manusia dan yang ilahi, termasuk pelbagai ilmu yang berbicara mengenai pokok-pokok ini. Ia menelusuri perkembangan pelbagai macam ilmu sehingga ia mampu menyusun suatu pandangan dunia yang sistematis. Seorang filsuf juga harus memperhatikan agar semua analisis dan permenungannya sungguh didasari penemuan-penemuan sehingga hasil karya ilmu tidak bertentangan satu dengan yang lain. Filsafat harus selalu berdialog dengan ilmu-ilmu melalui penelitian atas bidang-bidang yang digeluti oleh ilmu pengetahuan.

I.                   Hubungan Filsafat dan Ilmu Pengetahuan
Pendekatan
Kendati filsafat dipandang sebagai ilmu tetapi filsafat harus dibedakan dari ilmu-ilmu pengetahuan pada umumnya. Perbedaan-perbedaan ini dapat dilihat melalui metode atau pendekatan, sistematika, obyek  utama bahasan dan tujuan akhir dari masing-masing ilmu itu. Setiap ilmu memiliki metodenya sendiri untuk mencapai obyeknya yang juga amat khusus. Karena itu metode dan cara-cara kerja ilmu alam sangat berbeda dengan metode dan cara-cara kerja ilmu-ilmu sosial kemanusiaan (humaniora)
Filsafat menguraikan dan merumuskan hakikat realitas secara sistematis-metodis, maka ia juga dipelajari sebagai ilmu. Kekuatan filsafat ialah mensistematisasi semua pandangan hidup. Filsafat terlibat dalam pelbagai praktik ilmu.

1.      Pengertian ilmu
Auguste Rodin (1840-1917) pernah memahat sebuah patung manusia yang sedang merenung (homo sapiens) sebagai lambang kemanusiaan kita. Dengan berpikir, manusia menjadi manusia, makhluk yang paling unggul. Berpikir merupakan hakikat adanya sebagai manusia, maka setiap saat orang berpikir. Dengan kata lain berpikir sebagai actus humanus bersifat esensial bagi manusia karena itu kendati seorang manusia tidak dalam keadaan sadar (tidur atau mati suri), dia tetap dilihat sebagai makhluk yang berpikir. Namun berpikir sebagai suatu karya sadar dari akal yang aktif berarti secara sadar mengkonfrontasikan diri dengan realitas hidup. Melalui berpikir manusia dapat memiliki banyak pengetahuan tentang realitas yang maha luas ini.[2]
Apa yang ada dalam pikiran kita (sebagai konsep) tidak pernah akan terwujud tanpa adanya simbol yang bisa mengungkapkannya agar dapat dimengerti oleh manusia lain. Kata atau bahasa menjadi penting sebagai sarana komunikasi antar manusia. Filsafat adalah suatu cara berpikir yang radikal dan menyeluruh, suatu cara berpikir yang mengupas segala sesuatu secara mendalam.
Dalam kaitan antara filsafat dan ilmu dapat dikatakan bahwa setiap ilmu memiliki obyek tersendiri dan metode pendekatan yang khusus sesuai dengan ciri ilmu dan tujuan yang mau dicapainya. Karena obyek ilmu itu amat beragam maka sistematisasi dan pendekatannya pun amat berbeda. Ilmu yang satu berbeda dengan ilmu yang lain.
Setiap ilmu cenderung memaksa obyek untuk dapat menjawab maksud dan tujuannya sendiri. Apabila tujuan dari suatu ilmu sudah tercapai, maka ilmu berhenti di sana. Dalam perjalanan sejarah, suatu ilmu bisa bertabrakan dengan ilmu lain yang berdekatan karena obyeknya mirip atau memiliki ciri-ciri yang saling bersentuhan. Sedang Filsafat memiliki totalitas sebagai obyeknya. Oleh karena itu, filsafat tidak memiliki obyek yang tertutup seperti ilmu-ilmu lain, melainkan terbuka total dan radikal terhadap realitas. Filsafat akan terus menerus bertanya sampai akhir, bahkan akan bertanya mengapa ilmu-ilmu hanya bisa sampai pada titik di mana tujuannya sudah tercapai. Ingatlah bahwa hakikat filsafat adalah usaha mencari terus menerus dan dengan demikian kita senantiasa memperdalam ketidaktahuan kita.[3]
Secara umum dapat dikatakan bahwa ilmu pengetahuan dan filsafat dalam satu arti memiliki obyek yang sama yakni segala sesuatu yang dapat diketahui. Juga filsafat sebagai ilmu dan ilmu pengetahuan bersama-sama berarah kepada kebenaran. Perbedaan terletak dalam tujuan yakni filsafat terarah kepada totalitas sedangkan ilmu-ilmu menyelidiki bagian-bagian tertentu dari totalitas sesuai dengan maksud dan tujuan ilmu bersangkutan. Di sini diberikan contoh perbedaan antara filsafat sebagai ilmu dan ilmu pengetahuan pada umumnya.
Bayangkan anda sedang berhadapan dengan pohon kelapa yang hijau menghiasi bukit-bukit sekitar kita. Pelbagai unsur atau bagian pohon kelapa ini memiliki daya tarik tersendiri bagi setiap ilmuwan. Seorang ahli ekonomi atau seorang prokurator (orang yang mendapat kuasa mengurusi hak milik orang lain) akan lebih melihat pohon kelapa dari perspektif ekonomis, seperti buahnya dapat dijadikan kopra untuk dijual, dapat dikonsumsi secara langsung daging buah atau juga sirupnya; batang dan daun dapat dijual atau digunakan sebagai bahan bangunan. Seorang dokter atau ahli kimia lebih melihat daging buah atau air buah kelapa sebagai bahan dasar obat, pembersih atau penghalau racun dalam tubuh dan lain-lain. Seorang seniman akan menggunakan daun yang muda sebagai bahan hiasan atau dekorasi. Seorang filsuf akan memandang dan membuat refleksi tentang pohon kelapa dari pelbagai aspek di atas. Dia lebih melihat penggunaan kelapa itu secara umum demi kepentingan manusia. Jadi kalau ilmu secara parsial melihat manfaat pohon kelapa, filsafat melihatnya secara umum dan utuh pohon kelapa itu.

2.      Hubungan Filsafat dengan Ilmu Pengetahuan
Filsafat sering disebut sebagai induk dari semua ilmu pengetahuan. Sejarah ilmu pengetahuan memperlihatkan bahwa ilmu pengetahuan berasal dan berkembang dari filsafat. Sebelum ilmu pengetahuan lahir, filsafat telah memberikan landasannya yang kuat. Para filsuf Yunani Klasik seperti Demokritos sampai tiga serangkai guru dan murid yang sangat terkenal yakni Socrates, Plato, dan Aristoteles telah berbicara tentang atom, naluri, emosi, bilangan dan ilmu hitung (matematika), demokrasi, sistem pemerintahan dan kemasyarakatan, yang kemudian dikembangkan oleh fisika, biologi, kedokteran, matematika, biologi, ilmu budaya, psikologi, sosiologi, dan ilmu politik.
Lalu, setelah ilmu-ilmu pengetahuan melepaskan diri dari filsafat dan dengan tegas menyatakan kemandiriannya, bagaimana bentuk hubungan filsafat dengan ilmu pengetahuan? Bagaimana dengan kedudukan dan kegunaan filsafat selanjutnya? Kedudukan filsafat dan hubungannya dengan ilmu pengetahuan dapat digambarkan sebagai berikut.
1.      Tujuan filsafat untuk memahami hakikat dari sesuatu obyek yang menjadi kajiannya tetap dipertahankan, tetapi informasi atau pengetahuan yang menunjangnya harus bisa dipertanggungjawabkan  bukan hanya secara rasional (logis), tetapi juga secara faktual (dialami langsung dalam kehidupan kita). Oleh sebab itu, filsafat (harus) mengadakan kontak dengan ilmu pengetahuan, mengambil banyak informasi atau teori-teori terbaru darinya, dan mengembangkannya secara filosofis. Inilah yang telah dilakukan misalnya oleh Bergson, Cassirer, Husserl, Foucault, dan para filsul modern serta kontemporer lainnya. Pemikiran filsafati yang dikembangkan oleh mereka sangat kaya dengan ilustrasi-ilustrasi yang berasal dari temuan-temuan ilmiah yang berkembang pada zamannya.
2.      Tujuan filsafat untuk mempersoalkan nilai dari suatu obyek tetap dipertahankan. Hal ini pun dilakukan filsafat terhadap ilmu pengetahuan. Akibatnya, temuan-temuan ilmiah yang dinilai tidak sesuai dengan nilai-nilai kemanusiaan (dan juga ketuhanan), diberi kritik atau dikoreksi. Ingat misalnya, masalah kloning dan euthanasia. Filsafat memberikan evaluasi dan kritik terhadap dampak moral dan kemanusiaan  kedua masalah tersebut bagi hidup manusia.
3.      Filsafat pun melakukan kajian dan kritik terhadap persoalan-persoalan metodologi ilmu pengetahuan. Ini misalnya dilakukan dalam filsafat ilmu pengetahuan. Kritik filsafat atas cara kerja dan metodologi ilmu pengetahuan pada prinsipnya menguntungkan, karena dapat menjernihkan dan menyempurnakan ilmu pengetahuan. Kajian positivisme Auguste Comte (1798-1857), neo-positivisme (positivisme logis), falsifikasionisme Karl Popper (1902-1994), dan bahkan fenomenologi Edmund Husserl (1859-1938) tentang ilmu pengetahuan, tetapi juga memperkaya khazanah ilmu, khususnya ilmu pengetahuan sosial dan kemanusiaan (humaniora). Kritik-kritik mereka terhadap ilmu-ilmu sosial dan humaniora melahirkan paradigma-paradigma baru dalam ilmu sosial yakni yang bersifat humanistik dan kritis, di samping positivistik.

3.      Beda antara Filsafat dengan Ilmu Pengetahuan
Filsafat bukan ilmu pengetahuan. Ia berbeda dari ilmu pengetahuan dalam beberapa hal berikut ini: Pertanyaan inti, ruang lingkup masalah yang didekati, metode, fokus kajian, dan tentu saja hasil (teori). Lihat tabel berikut ini.

Perbedaan antara Filsafat dengan Ilmu Pengetahuan

FILSAFAT
ILMU PENGETAHUAN
PERTANYAAN INTI
-          Apa? (hakikat)
-          Mengapa? (Sebab-akibat yang bersifat ultimate) dari mana (asal-usul) dan ke mana (apa yang terjadi berikutnya)?
-          Mengapa? (sebab akibat)
-          Bagaimana? (dinamika)
-          Berapa banyak? (kuantifikasi, persentase, frekuensi)
RUANG LINGKUP MASALAH
-          Luas, mencakup semua hal yang memungkinkan untuk dipikirkan
-          Terbatas pada gejala atau aspek-aspek tertentu, sejauh yang dapat diukur secara empiris
METODE
-          Logis-rasional
-          Ilmiah, mencakup rasional, empiris, dan terukur
FOKUS KAJIAN
- Fakta (das Sein) dan nilai (das Sollen)
-  Fakta (das Sein), terutama dalam pure science
HASIL (TEORI)
-          intensif (dalam),
-          Ekstensif (luas),
-          Kritis (karena berkaitan dengan nilai)

-          Khususnya dalam IPS: Terbatas pada populasi dan “kelas” obyek yang diteliti

Dari tabel di atas tampak jelas bahwa ada perbedaan antara filsafat dan ilmu pengetahuan dalam hal pertanyaan-pertanyaan dasar yang diajukan oleh kedua disiplin ini. Filsafat mengajukan pertanyaan yang intinya dimaksudkan untuk mengetahui “apa” (essensi atau sifat dasar) dari suatu masalah, kejadian atau obyek, sedangkan ilmu pengetahuan menjawab pertanyaan “bagaimana” (dinamika atau proses) dari suatu masalah atau obyek itu berjalan. Ilmu pengetahuan mengajukan pertanyaan mengenai kuantitas, baik dari jumlah obyek (frekuensi) maupun signifikasi pengaruh atau hubungan (taraf signifikansi). Meski sama-sama mengajukan pertanyaan mengenai “mengapa”, kedua disiplin itu berbeda sama sekali kedalamannya. Jawaban yang dituntut dalam ilmu pengetahuan untuk pertanyaan “mengapa” terbatas pada sejumlah variabel yang terukur, sehingga dapat dijawab melalui metode-metode empiris seperti eksperimen. Sedangkan, pertanyaan filsafat berkaitan dengan sebab-musabab yang terdalam (ultimate causation), sehingga jawabannya tidak dapat ditemukan melalui penggunaan metode-metode empiris. Misalnya, mengapa ada kehidupan jika pada akhirnya mendatangkan penderitaan? Mengapa yang ada itu ada? Mengapa saya hidup di dunia ini saat ini, bukan di kehidupan di abad-abad yang akan datang? Mengapa manusia memerlukan moralitas?
Ruang lingkup masalah kedua disiplin ilmu itu pun berbeda. Filsafat tidak membatasi diri pada obyek-obyek atau masalah-masalah yang dapat dialami atau dibuktikan secara empiris, tetapi pada obyek-obyek atau masalah-masalah sejauh dapat dipikirkan secara rasional. Maka, ruang lingkup masalah filsafat bisa sangat luas, misalnya mengenai keberadaan Tuhan, jiwa, moralitas, dan lain-lain. Ini berbeda dengan ilmu pengetahuan. Obyek atau masalah ilmu pengetahuan adalah gejala-gejala yang dapat diobservasi dan dialami secara empiris, bahkan terukur secara kuantitatif.
Fokus kajian filsafat bukan hanya pada fakta sebagaimana adanya tapi juga nilai, yaitu sesuatu yang seharusnya ada atau melekat pada fakta tersebut. Oleh sebab itu, banyak filsuf yang merasa tidak puas hanya dengan menggambarkan suatu obyek, keadaan, atau masalah apa adanya, melainkan secara kritis menjelaskan bagaimana seharusnya atau idealnya obyek, keadaan atau masalah tersebut. Atas dasar itu dapat dipahami kenapa sebagian filsuf bukan hanya memiliki keberpihakan pada nilai kebenaran, tetapi juga pada nilai kemanusiaan (humanisme); pada kelompok masyarakat tertindas (Marxisme dan teori kritis); dan lain-lain. Bagaimana dengan ilmu pengetahuan? Ilmu pengetahuan kurang memperma-salahkan nilai, karena fokusnya pada deskripsi dan penjelasan serta prediksi fakta atau gejala.
Karena berbeda dalam pertanyaannya, ruang lingkup dan fokus kajian-kajiannya, maka metode kedua disiplin itu pun masing-masing memiliki perbedaan. Dalam filsafat tidak ada penelitian eksperimental atau studi korelasional, misalnya. Filsafat tidak mengukur dan membuktikan hubungan antarvariabel. Meski ada beragam metode dalam filsafat, tetapi ciri utamanya adalah rasional dan kritis. Sebaliknya, ilmu pengetahuan menggunakan metode ilmiah, yang bukan hanya rasional, tetapi juga empiris, mengukur fakta-fakta dan saling hubungan antara fakta atau variabel yang satu dengan fakta atau variabel yang lain.
Hasil atau produk filsafat dan ilmu pengetahuan berbeda karena metode dan area masalahnya pun berbeda. Hasil pemikiran filsafat berupa pemikiran-pemikiran filsafat yang isinya atau ruang lingkupnya berupa pemikiran-pemikiran filsafat yang isinya atau ruang lingkupnya relatif luas, kritis, intensif atau dalam. Sebaliknya, hasil ilmu pengetahuan adalah berupa teori-teori ilmu pengetahuan yang isinya relatif lebih detil dibandingkan pemikiran filsafat, tetapi relatif terbatas pada fakta-fakta empiris, atau gejala-gejala yang dianggap termasuk ke dalam populasi obyek yang diteliti oleh ilmu pengetahuan.

II.                Hubungan Filsafat dengan Agama

1.      Pengertian Agama
Pengertian agama yang paling umum dipahami adalah bahwa kata agama berasal dari bahasa Sanskerta berasal dari kata a dan gama. A berati ‘tidak’ dan gama berarti 'kacau'. Jadi, kata agama diartikan tidak kacau, tidak semrawut, hidup menjadi lurus dan benar.
Pengertian agama menunjuk kepada jalan atau cara yang ditempuh untuk mencari rahmat dan kasih Tuhan. Dalam agama itu ada sesuatu yang dianggap berkuasa, yaitu Tuhan, zat yang memiliki segala yang ada, yang berkuasa, yang mengatur seluruh alam beserta isinya. Asal dari segala sesuatu. Pengasal yang tidak berasal. Penggerak yang tidak digerakkan.
Agama bisa dibedakan antara agama wahyu dan agama bukan wahyu. Agama wahyu biasanya berpijak pada keesaan Tuhan, ada nabi yang bertugas menyampaikan ajaran kepada manusia dan ada kitab suci yang dijadikan rujukan dan tuntunan tentang baik dan buruk. Sedangkan pada agama yang bukan wahyu tidak membicarakan tentang keesaan Tuhan, dan tidak ada nabi.

2.      Hubungan Filsafat dengan Agama
Ada beberapa asumsi berkaitan dengan jalinan filsafat dengan agama. Asumsi itu didasarkan pada anggapan manusia sebagai makhluk budaya. Asumsi pertama, sebagai makhluk budaya manusia mampu berspekulasi dan berteori filsafat yang akan menentukan kebudayaannya, bahkan sampai sadar dan jujur mengakui kenyataan Tuhan dan ajaran agama.
Asumsi kedua dinyatakan oleh Dewey dengan pikiran meliorisme-nya. Maksud pemikirannya adalah: dunia ini diciptakan oleh Tuhan sebagai suatu potensi yang dapat diperbaiki, diperindah dan diperkaya, sehingga hidup dan penghidupan ini bisa lebih ditingkatkan nilai harganya untuk dihidupi dan dinikmati. Secara ringkas bisa dijelaskan hubungan agama dengan filsafat sebagai berikut:
 1) agama adalah unsur mutlak dan sumber kebudayaan, sedangkan filsafat adalah salah satu unsur kebudayaan;
2) agama adalah ciptanya Tuhan, sedangkan filsafat hasil spekulasi manusia;
3) agama adalah sumber-sumber asumsi dari filsafat dan ilmu pengetahuan (science), dengan filsafat menguji asumsi-asumsi science;
4) agama mendahulukan kepercayaan daripada pemikiran, sedangkan filsafat mempercayakan sepenuhnya kekuatan daya pemikiran;
5) agama mempercayai akan adanya kebenaran dan kenyataan dogma-dogma agama, sedangkan filsafat tidak mengakui dogma-dogma sebagai kenyataan tentang kebenaran.
Dengan memperhatikan spesifikasi dan sifat-sifat di atas, tampak jelas bahwa peran agama terhadap filsafat ialah meluruskan filsafat yang spekulatif kepada kebenaran mutlak yang ada pada agama. Sedangkan peran filsafat terhadap agama ialah membantu keyakinan manusia terhadap kebenaran mutlak itu dengan pemikiran yang kritis dan logis. Hal ini didukung pernyataan yang menyatakan bahwa filsafat yang sejati haruslah berdasarkan agama, malahan filsafat yang sejati itu adalah terkandung dalam agama (Hamzah Abbas, 1981: 29).

Perbandingan Jalinan Agama dan Filsafat
AGAMA
FILSAFAT
a.       Agama adalah unsur mutlak dan sumber kebudayaan
b.      Agama adalah ciptaan Tuhan
c.       Agama adalah sumber-sumber asumsi dari filsafat dan ilmu pengetahuan (science)
d.      Agama mendahulukan kepercayaan daripada pemikiran
e.       Agama mempercayai akan adanya kebenaran dan khayalan dogma-dogma agama
a.       Filsafat adalah salah satu unsur kebudayaan
b.      Filsafat adalah hasil spekulasi manusia
c.       Filsafat menguji asumsi-asumsi science, dan science mulai dari asumsi
d.      Filsafat mempercayakan sepenuhnya kekuatan daya pemikiran
e.       Filsafat tidak mengakui dogma-dogma agama sebagai kenyataan tentang kebenaran


III.             Jalinan Filsafat, Agama, dan Ilmu
Sejarah umat manusia sesungguhnya tidak pernah lepas dari usaha pencarian Tuhan. Umat manusia melakukan pencarian demi pencarian Tuhan yang sebenarnya. Bagi sebagian orang, agama memang menjadi jawaban. Namun demikian, sejak ratusan tahun bahkan ribuan tahun silam, dunia telah diramaikan oleh para filsuf yang selalu terlibat dalam pembicaraan ketuhanan (teologi), bahkan dalam wacana tentang asal-usul alam semesta (ontologi) dan ilmu pengetahuan (epistemologi).
Manusia menjalani liku-liku perjalanan dalam upaya mencari Tuhan. Sebagian besar dari mereka benar-benar menemukan Tuhan. Akan tetapi, sebagian lainnya terlena dalam impian yang tak jelas ketika mencoba memaksakan diri untuk menjangkau hakekat Tuhan yang sesungguhnya. Mereka terlalu jauh mengembara di belantara metafisisme, sehingga tak sedikit yang masuk ke dalam perangkap skeptisisme, bahkan ateisme. Dalam konteks agama sikap ini tentu saja kontraproduktif, sekaligus kontraproduktif dengan semangat keagamaan yang selalu memerintahkan manusia untuk memikirkan hal-hal yang indrawi dan rasional ketika berbicara tentang eksistensi, bukan esensi Tuhan sebagai Pencipta.
Namun demikian, konstribusi filsafat dan ilmu dalam mengantarkan keimanan kepada Tuhan bukannya tidak ada. Dalam batas-batas tertentu, filsafat dan ilmu bisa mendukung berbagai bukti kebenaran eksistensi dan kekuasaan Tuhan yang telah banyak diungkap oleh agama.

1.      Titik Persamaan
Baik ilmu, filsafat, maupun agama bertujuan sekurang-kurangnya sama-sama mencari kebenaran. Ilmu pengetahuan dengan metodenya sendiri, mencari kebenaran tentang alam, termasuk tentang manusia. Filsafat dengan wataknya sendiri pula, menghampiri kebenaran, baik tentang alam maupun tentang manusia ataupun tentang Tuhan, yang belum atau tidak dapat dijawab oleh ilmu, karena di luar atau di atas jangkauannya. Agama dengan karakteristiknya sendiri pula memberikan jawaban atas segala persoalan mendasar yang dipertanyakan manusia, baik tentang alam, tentang manusia maupun tentang Tuhan.

2.      Titik Perbedaan
Baik ilmu maupun filsafat, keduanya merupakan hasil dari akal budi atau rasio manusia. Sedangkan agama bersumberkan dari wahyu Allah.
Ilmu pengetahuan mencari kebenaran dengan jalan penyelidikan (riset), pengalaman (empiris), dan percobaan (eksperimen) sebagai batu ujian. Filsafat menghampiri kebenaran dengan cara menulangkan (mengembarakan atau mengelanakan) akal budi secara radikal (mengakar), integral (menyeluruh) dan universal (alami atau mengalam) tidak merasa terikat oleh ikatan apapun, kecuali oleh ikatan tangannya sendiri bernama logika. Filsafat itu ialah rekaman petualangan jiwa dalam kosmos.
Manusia mencari dan menemukan kebenaran dengan dan dalam agama dengan jalan mempertanyakan (mencari jawaban tentang) pelbagai masalah asasi dari atau kepada kitab suci, kodifikasi firman ilahi untuk manusia di atas planet bumi ini.
Kebenaran ilmu pengetahuan adalah kebenaran positif (berlaku sampai dengan saat ini), kebenaran filsafat adalah kebenaran spekulatif (dugaan yang tak dapat dibuktikan secara empiris, riset, dan eksperimen). Baik kebenaran ilmu maupun kebenaran filsafat, keduanya nisbi (relatif). Sedangkan
kebenaran agama bersifat mutlak (absolut), karena agama adalah wahyu yang diturunkan oleh yang Maha Benar, Maha Mutlak, dan Maha Sempurna. Baik ilmu maupun filsafat, keduanya berangkat dari sikap sangsi atau tidak percaya. Sedangkan agama mulai dengan sikap percaya atau beriman.

3.      Titik Singgung
Tidak semua masalah yang dipertanyakan manusia dapat dijawab secara positif oleh ilmu pengetahuan, karena ilmu terbatas, terutama oleh subyeknya (sang penyelidik), oleh obyeknya (baik obyek material maupun obyek formalnya) dan juga oleh metodologinya.
Tidak semua masalah yang tidak atau belum terjawab oleh ilmu, lantas dengan sendirinya dapat dijawab oleh filsafat. Jawaban filsafat sifatnya spekulatif dan juga alternatif tentang suatu masalah asasi yang sama terdapat pelbagai jawaban filsafat (para filosof) sesuai dan sejalan dengan titik tolak sang ahli filsafat itu.
Agama memberi jawaban tentang banyak (pelbagai) soal asasi yang sama sekali tidak terjawab oleh ilmu yang dipertanyakan, namun tidak terjawab secara bulat oleh filsafat.
Pada prinsipnya antara ilmu, filsafat, dan agama mempunyai hubungan yang erat dan saling terkait antara satu dan lainnya. Di mana ketiganya memiliki kekuatan daya gerak dan refleksi yang berasal dari manusia. Dalam diri manusia terdapat daya yang menggerakkan ilmu, filsafat, dan agama yaitu melalui akal pikir, rasa, dan keyakinan.
Akal pikiran manusia sebagai daya gerak dan berkembangnya ilmu dan filsafat. Sedangkan keyakinan menjadi daya gerak agama. Ilmu diperoleh melalui akal pikiran manusia dari pengalaman (empiris) dan indera (riset). Filsafat mendasarkan pada otoritas akal murni secara bebas, sedangkan agama mendasarkan diri pada otoritas wahyu.
Hubungan lain adalah bahwa filsafat identik dengan ilmu pengetahuan, sebagaimana juga filsuf identik dengan ilmuwan. Obyek materi ilmu adalah alam dan manusia, dan obyek material filsafat adalah alam, manusia, dan Tuhan. Sedangkan obyek kajian agama adalah Tuhan.
Selain itu, masih dalam kaitan antara ilmu, filsafat, dan agama, bahwa filsafat mengkaji tentang kebijaksanaan. Manusia berusaha untuk mencari kebijaksanaan, mencari dengan cara yang ilmiah tentang kebenaran. Akan tetapi, manusia tidak akan sampai pada derajat bijaksana, karena hanya Tuhan sajalah yang bersifat bijaksana. Manusia hanya berusaha untuk mencari kebijaksanaan, mencari kebenaran, dengan cara yang ilmiah. Selain itu, segala aktivitas manusia yang berkenaan dengan pemahaman terhadap dunia secara keseluruhan dengan jiwa dan pikirannya merupakan bagian dari kajian filsafat. Filsafat identik dengan agama, sama-sama mengkaji tentang kebajikan, tentang Tuhan, baik dan buruk, dan lain-lain. Itulah sebabnya maka filsafat mempunyai hubungan yang erat dengan agama di satu sisi dan ilmu pengetahuan di sisi lain.
Hubungan yang lebih dekat lagi, dapat disaksikan bahwa hal-hal yang tidak terjangkau oleh akal budi (filsafat) akan terjawab melalui wahyu atau agama. Begitu juga dengan filsafat, membahas persoalan-persoalan yang tidak terjawab oleh ilmu pengetahuan.
Dengan demikian, antara ilmu, filsafat, dan agama dapat saling mengisi dan saling melengkapi. Sehingga menjadi lengkaplah sudah kebutuhan manusia untuk memahami keberadaan alam, manusia, dan Tuhan.

4.      Persamaan antara Ilmu, Filsafat, dan Agama
Yang paling pokok persamaan dari ketiga bagian ini adalah sama-sama bertujuan mencari kebenaran. Ilmu pengetahuan melalui metode ilmiahnya berupaya untuk mencari kebenaran. Metode ilmiah yang digunakan dengan cara melakukan penyelidikan atau riset untuk membuktikan atau mencari kebenaran tersebut. Filsafat dengan caranya tersendiri berusaha menemukan hakikat sesuatu baik tentang alam, manusia, maupun tentang Tuhan. Sementara agama, dengan karakteristiknya tersendiri memberikan jawaban atas segala persoalan asasi tentang alam, manusia, dan Tuhan.

5.       Perbedaan antara Ilmu, Filsafat, dan Agama
Terdapat perbedaan yang mencolok antara ketiga aspek tersebut, di mana ilmu dan filsafat bersumber dari akal budi atau rasio manusia. Sedangkan agama bersumberkan wahyu dari Tuhan.
Ilmu pengetahuan mencari kebenaran dangan cara penyelidikan (riset), pengalaman (empiri), dan percobaan (eksperimen). Filsafat menemukan kebenaran atau kebijakan dengan cara penggunaan akal budi atau rasio yang dilakukan secara mendalam, menyeluruh, dan universal. Kebenaran yang diperoleh atau ditemukan oleh filsafat adalah murni hasil pemikiran (logika) manusia, dengan cara perenungan (berpikir) yang mendalam (radikal) tentang hakikat segala sesuatu (metafisika). Sedangkan agama mengajarkan kebenaran atau memberi jawaban tentang berbagai masalah asasi melalui wahyu atau kitab suci yang berupa firman Tuhan.
Kebenaran yang diperoleh melalui ilmu pengetahuan dengan cara penyelidikan tersebut adalah kebenaran positif, yaitu kebenaran yang masih berlaku sampai dengan ditemukan kebenaran atau teori yang lebih kuat dalilnya atau alasannya. Kebenaran filsafat adalah kebenaran spekulatif, berupa dugaan yang tidak dapat dibuktikan secara empiris, riset, dan eksperimen. Baik kebenaran ilmu maupun kebenaran filsafat, keduanya nisbi (relatif). Sedangkan kebenaran agama bersifat mutlak (absolut), karena ajaran agama adalah wahyu yang diturunkan oleh yang maha benar, yang maha mutlak.




[1] Bdk. Louis Kattsoff, terje. Soejono Soemargono, Pengantar Filsafat, Yogyakarta, 1989, 87
[2] Bdk. Jujun S. Suriasumantri, ed. Ilmu dalam Perspektif, Jakarta, 1987, hal. 1-2
[3] Bdk. Konrad Kebung, “Dasar-dasar Filsafat dan Logika” (mans), Ledalero 2005, 47

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar