Terima Kasih Anda Telah Berkunjung di Blog Obet Nego Y. Agau

Senin, 20 Mei 2013

Gambaran umum cabang Filsafat


Gambaran Umum Cabang-cabang Filsafat
Hakekat yang sangat mendasar dalam filsafat adalah bahwa manusia mencari arti dari dirinya sendiri dan dunianya. Ini dapat secara benar dikatakan bahwa filsafat dilahirkan ketika manusia pada awalnya memulai kekaguman pada apa yang dia lihat di sekeliling dia.
Pada mulanya bagi orang-orang Yunani, filsafat adalah primadonna tentang suatu subyek. Mereka melihat dengan minat “ … pada suatu gambaran dunia yang menyeluruh, dalam kesatuan dari semua kebenaran – apakah mereka adalah ilmiah, etika, agama, atau estetis. Filsafat Yunani dicermati bukan hanya dengan tipe pengetahuan yang khusus, tetapi untuk semua tipe.”
Filsafat bertanya tentang seluruh kenyataan, tetapi selalu salah satu segi dari kenyataan itu yang menjadi titik fokus penyelidikan. Filsafat selalu bersifat ‘filsafat tentang’ sesuatu yang tertentu: filsafat tentang manusia, filsafat alam, filsafat kebudayaan, filsafat seni, filsafat agama, filsafat bahasa, filsafat sejarah, filsafat hukum, filsafat pengetahuan, dan seterusnya. Semua jenis ‘filsafat tentang’ suatu obyek tertentu dapat dikembalikan kepada sepuluh cabang filsafat, dan sepuluh cabang ini masih dapat dikembalikan lagi kepada empat bidang induk, seperti terlihat dalam skema ini:
Filsafat tentang Pengetahuan
Epistemologi
Logika
Kritik Ilmu-ilmu
Filsafat tentang keseluruhan kenyataan
Metafisika umum (Ontologi)
Metafisika Khusus:
è Teologi Metafisik
è Antropologi
è Kosmologi
Filsafat tentang tindakan
Etika
Estetika
Sejarah Filsafat


Filsafat dapat dibagi atas empat kelompok: (a) filsafat tentang pengetahuan, yang terdiri dari epistemologi, logika dan kritik ilmu-ilmu; (b) filsafat tentang keseluruhan kenyataan, yang terdiri dari metafisika umum (ontologi) dan metafisika khusus (teologi metafisik, antropologi, kosmologi); (c) filsafat tentang tindakan, yang terdiri dari etika dan estetika; (d) sejarah filsafat.
Epistemologi merupakan ‘pengetahuan tentang pengetahuan’. Logika menyelidiki aturan-aturan yang harus diperhatikan supaya cara berpikir sehat. Kritik ilmu-ilmu menyelidiki titik pangkal, metode, dan objek dari ilmu-ilmu. Ontologi merupakan pengetahuan tentang ‘semua pengada sejauh mereka ada’. Teologi metafisik (juga disebut teodicea atau filsafat ketuhanan) berbicara tentang pertanyaan apakah Tuhan ada dan tentang nama-nama ilahi. Antropologi berbicara tentang manusia. Kosmologi (juga disebut filsafat alam) berbicara tentang alam, kosmos. Etika (juga disebut filsafat moral) berbicara tentang tindakan manusia. Estetika (juga disebut filsafat seni) mencoba untuk menyelidiki mengapa sesuatu dialami sebagai indah. Sejarah filsafat mengajarkan apa jawaban pemikir-pemikir sepanjang jaman atas pertanyaan-pertanyaan manusia.
Tidak semua filsuf setuju dengan pembagian seperti diuraikan di sini. Misalnya saja, ada filsuf-filsuf yang menyangkal kemungkinan ontologi atau kemungkinan seluruh metafisika. Namun pembagian seperti di atas ini merupakan skema yang paling klasik dan paling umum diterima. Berikut ini semua cabang dibicarakan secara singkat.
4.1. Epistemologi
Semua cabang filsafat terdiri dari pengetahuan. Apa itu pengetahuan? Sesuatu yang berasal dari pengamatan? Dari akal budi? Atau justru dari interaksi pancaindera dan akal budi? Ataukah pengetahuan lebih bersifat intuitif? Apakah kita dapat mencapai kepastian bahwa pengetahuan kita b enar? Apakah semua pengetahuan tidak bersifat hipotesis?
Pertanyaan-pertanyaan tentang kemungkinan-kemungkinan pengetahuan, tentang batas-batas pengetahuan, tentang asal dan jenis-jenis pengetahuan, dibicarakan dalam epistemologi. Kata ‘epistemologi’ berarti ‘pengetahuan (Yunani: logia) tentang pengetahuan (episteme)’. Dalam sejarah filsafat kelihatan suatu gerakan gelombang dari periode-periode perkembangan dan jaman-jaman skeptisis. Setelah setiap kali tercapai suatu puncak dalam pemikiran, orang mulai ragu-ragu. Orang bertanya, apakah kita di dunia ini memang pernah akan mampu untuk mencapai kepastian tentang kebenaran pengetahuan kita.
Skeptisisme merupakan sesuatu yang ditemukan sepanjang sejarah, tetapi skeptisisme memang sudah lama diatasi. Pemikir-pemikir seperti Augustinus dan Descartes telah memperlihatkan bahwa skeptisisme tidak dapat dipertahankan secara konsekuen. Skeptisis-skeptisis menyangsikan apa-apa saja, tetapi sekurang-kurangnya satu hal  tidak diragukan. Kelihatannya setiap manusia juga seorang skeptisis, menerima bahwa sekurang-kurangnya ada beberapa hal yang pasti.
Mengenai unsur-unsur yang mengambil peranan dalam proses pengetahuan, terdapat banyak pendapat. Ada dua aliran falsafat yang berperan besar dalam diskusi tentang proses pengetahuan, yaitu rasionalisme dan empirisme.
Rasionalisme (latin: ratio = akal budi) mengajarkan bahwa akal budi merupakan sumber utama pengetahuan. Rasionalisme mempunyai akar-akar yang sangat tua, tetapi dalam zaman modern (setelah sekitar 1600) rasionalisme mendapat tekanan baru pada filsuf-filsuf seperti Descartes, Spinoza, dan Leibniz. Lawan rasionalisme, empirisme (Yunani: empeiria ‘pengalaman’), mengajarkan bahwa pengetahuan berasal dari pengalaman inderawi, bukannya dari akal budi karena akal budi diisi dengan kesan-kesan yang berasal dari pengamatan. Baru kemudian kesan-kesan ini oleh akal budi dihubungkan, sehingga terjadi ide-ide majemuk. Empirisme merupakan suatu aliran yang terutama ditemukan di Inggris. Tokoh-tokoh empirisme itu antara lain Bacon, Hobbes, Locke dan Hume.
Empirisme dan rasionalisme didamaikan oleh Immanuel Kant, yang memperlihatkan bagaimana peranan pancaindera dan akal budi, dalam suatu analisis raksasa dari seluruh proses pengetahuan, dengan semua unsurnya yang main peranan. Setelah Kant, epistemologi merupakan cabang filsafat yang sangat berkembang. Banyak filsuf masa kini lebih-lebih terkenal dengan epistemolog.
4.2. Logika
Logika (Yunani: logikos ‘berhubungan dengan pengetahuan’, ‘berhubungan dengan bahasa’) merupakan cabang filsafat yang menyelidiki kesehatan cara berpikir, aturan-aturan mana yang harus dihormati supaya pernyataan-pernyataan itu benar dan lurus. Logika tidak mengajarkan apa pun tentang manusia atau dunia. Logika hanya merupakan suatu teknik atau seni yang mementingkan segi formal, bentuk dari pengetahuan.
Suatu argumentasi betul kalau semua langkah dari argumentasi itu betul. Langkah-langkah ini terdiri dari kalimat-kalimat (proposisi-proposisi), dan setiap kalimat terdiri dari suatu subyek dan sebuah predikat. Mari kita ambil contoh ini:
(A)   Kalau semua orang Jogja senang makan ayam
(B)   Saudara M seorang penduduk Jogja
(C)   Maka Saudara M senang makan ayam
Argumentasi ini terdiri dari tiga kalimat. Kalimat A dan B disebut premis-premis, dan kalimat C disebut konklusi. Setiap kalimat terdiri dari subjek (yaitu ‘semua orang jogja’ dan ‘saudara M’) dan predikat (yaitu ‘senang makan ayam’ dan ‘penduduk dari jogja’). Nah, logika menyelidiki syarat-syarat yang harus dipenuhi supaya kesimpulan yang ditarik dari premis-premis dapat disebut lurus dan benar. Usaha ini kelihatannya sederhana, tetapi soal-soal yang dibicarakan dalam logika memang sangat kompleks.
Setiap kalimat terdiri dari term-term (yaitu subjek dan predikat). Term-term ini dapat bersifat tunggal (misalnya ‘binatang’) atau majemuk (‘binatang bersayap’), tertentu (‘manusia’) atau tak tertentu (‘bukan manusia’), konkret (‘udara lembab’) atau abstrak (‘kelembaban’), positif (‘hidup’) atau negatif (‘tidak hidup’). Semua distingsi ini penting karena sifat-sifat dari suatu term membawa syarat-syarat tertentu untuk pemakaiannya. Juga penting pembedaan proposisi, misalnya proposisi konjungtif (‘A dan B pergi ke Jakarta’), proposisi disjungtif (‘A dan B pergi ke Jakarta’), proposisi alternatif (“Selalu atau A atau B yang pergi ke Jakarta”), proposisi hipotetis (‘Kalau ..., maka ....’), dan seterusnya. Semua jenis kalimat ini mempunyai aturan-aturan pemakaian tersendiri.
Logika dalam bentuk ini disebut Logika klasik. Logika klasik berkembang pada Aristoteles (348-322 SM) dan pada banyak filsuf dari Abad Pertengahan. Sekarang dibedakan suatu jenis logika baru – di samping logika klasik – yaitu logika matematis yang juga disebut logika formal atau logistik. Logika matematis dikembangkan antara lain oleh Frege, Whitehead, dan Russell.
4.3. Metafisika
a. Metafisika Umum
Filsafat menyelidiki seluruh kenyataan. Tetapi kalau manusia ingin berbicara tentang “segala sesuatu sekaligus”, lalu jelas bahwa ia menghadapi kesukaran-kesukaran yang agak besar. Dalam logika diajarkan suatu prinsip yang mengatakan: “makin besar esktensi suatu istilah atau pernyataan, makin kecil komprehensi istilah atau pernyataan itu”. Artinya, isi (komprehensi) suatu kata atau kalimat menjadi sangat kecil kalau luasnya (ekstensi) kata atau kalimat itu sangat besar, dan sebaliknya.
Dalam perkataan-perkataan tentang kenyataan pada umumnya, ekstensi begitu besar sehingga komprehensi hampir tidak berarti lagi. Metafisika umum (atau ontologi) berbicara tentang segala sesuatu sekaligus. Lalu itu hanya mungkin kalau komprehensi perkataan-perkataannya kecil sekali. Metafisika umum hanya berbicara tentang segala sesuatu sejauh itu ‘ada’. “Adanya” segala sesuatu merupakan suatu segi dari kenyataan yang mengatasi semua perbedaan antara benda-benda dan mahkluk-mahkluk hidup, antara jenis-jenis dan individu-individu. Semua benda, tumbuh-tumbuhan, binatang, dan orang merupakan suatu “pengada”. Kata Yunani untuk “pengada” adalah on (genetif: ontos). Oleh karena itu, pengetahuan tentang pengada-pengada, sejauh mereka ada, disebut ontologi. Pertanyaan-pertanyaan dari ontologi itu misalnya “Apakah kenyataan merupakan kesatuan atau tidak?”, “Apakah alam raya adalah peredaran abadi di mana semua gejala selalu kembali, seperti dalam siklus musim-musim, atau justru suatu proses perkembangan?” Kemungkinan dan manfaat dari metafisika umum seringkali disangsikan.
Dari lain pihak, metafisika umum juga sering dipandang sebagai puncak dari filsafat, karena pertanyaan-pertanyaan dari ontologi langsung berhubungan dengan sikap manusia terhadap pertanyaan paling dasar, yaitu pertanyaan tentang adanya Transendensi atau Allah. Salah satu hasil dari ontologi adalah suatu nama untuk Allah yang sangat abstrak, tetapi yang sekaligus sangat cocok, yaitu nama “mengada” (Inggris: Letting-be, Latin: Esse). Sumber dari segala sesuatu – sejauh itu ada – pencipta dari seluruh ciptaan, adalah Tuhan.
Jenis ontologi ini, dari satu pihak, menarik karena di sini ditemukan kemungkinan untuk menterjemahkan istilah-istilah falsafi. Dari lain pihak, jenis ontologi ini juga dikritik karena di depan Allah sebagai “Mengada” manusia tidak dapat berlutut, dan kepada Letting-be ia tidak dapat berdoa.
Jawaban-jawaban yang diberikan atau pertanyaan-pertanyaan yang dirumuskan dalam ontologi mengungkapkan suatu kepercayaan. Sampai sekarang dibedakan empat jenis kepercayaan ontologis, yaitu ateisme, agnostisisme, panteisme, dan teisme.
Ateisme (Yunani: a – bukan; theos ‘Allah’) mengajarkan bahwa Allah tidak ada, bahwa manusia sendirian dalam kosmos, sendirian di bawah surga yang kosong.
Agnostisisme (Yunani: a- bukan, gnosis ‘pengetahuan’) mengajarkan bahwa tidak dapat diketahui apakah Allah ada atau tidak, sehingga pertanyaan tentang Allah selalu terbuka.
Panteisme (Yunani: pan ‘segala sesuatu’, theos ‘Allah’) mengajarkan bahwa seluruh kosmos sama dengan Allah, sehingga tidak ada perbedaan antara Pencipta dan ciptaan. Allah dan alam itu “sama saja”, sehingga panteisme juga dapat disebut teo-panteisme.
Teisme mengajarkan bahwa Allah itu ada, bahwa terdapat perbedaan antara Pencipta dan ciptaan dan bahwa Allah boleh disebut ‘Engkau’ dan ‘penyelenggaraan’.
Ontologi atau metafisika umum merupakan cabang filsafat yang sekarang ini sangat problematis. Menurut banyak filsuf masa kini, cabang ini tidak mungkin karena manusia di sini melewati batas-batas kemungkinan-kemungkinan akal budinya.
b. Metafisika Khusus
Metafisika khusus terdiri dari teologi metafisik, antropologi, dan kosmologi. Teologi metafisik berhubungan erat dengan ontologi. Dalam teologi metafisik diselidiki apa yang dapat dikatakan tentang adanya Allah, lepas dari agama, lepas dari wahyu. Teologi metafisik tradisional biasanya terdiri dari dua bagian: bagian pertama berbicara tentang bukti-bukti untuk adanya Allah, bagian kedua berbicara tentang nama-nama ilahi. Kedua tema ini masih tetap penting, tetapi sekarang dalam teologi metafisik diberikan banyak perhatian kepada ‘bahasa’ tentang Allah, bahasa religius, bahasa teologis, bahasa Kitab Suci, dan bahasa doa. Oleh karena itu, teologi metafisik (atau teologi falsafi) juga disebut meta-teologi karena diadakan suatu refleksi tentang bahasa teologi, sesuatu yang datang ‘sesudah’ teologi sendiri, seperti halnya metafisika datang sesudah fisika dan meta-etika datang sesudah etika.
Yang dapat dikatakan tentang Allah, lepas dari agama, tentu saja sedikit sekali. Teologi metafisik hanya menghasilkan suatu kepercayaan yang sangat sederhana dan cukup miskin serta abstrak. Namun, yang sedikit ini sangat berguna dalam dialog dengan agama-agama lain, dengan agnostisisme, panteisme, dan ateisme. Orang yang mempunyai pendapat lain dari pada kita tentang Allah tidak akan menerima argumen-argumen yang berasal dari teologi yang terikat pada suatu ‘wahyu’ khusus, tetapi mereka akan menerima argumen-argumen yang hanya berdasarkan pemakaian akal budi karena akal budi merupakan milik umum.
Iman falsafi yang dicapai dalam teologi metafisik tidak cukup. Iman ini dalam tradisi sering disebut prae-ambulum fidei, ‘langkah sebelum iman’ atau ‘ambang pintu dan persiapan untuk iman’.
Teologi metafisik juga disebut teodise. Nama ini kurang cocok karena teodise memang hanya bagian kecil dari teologi metafisik. Teodise (Yunani: theos ‘Allah’, dike ‘pembenaran’ atau ‘pengadilan’) mencoba menerangkan bahwa kepercayaan kepada Allah tidak bertentangan dengan kenyataan kejahatan. Kenyataan kejahatan merupakan sebab terpenting bahwa banyak orang tidak dapat percaya akan Allah, atau, bahwa mereka tidak dapat percaya bahwa Allah Mahabaik dan Mahakuasa. Peranan teodise dalam teologi metafisik dahulu begitu penting sehingga sering seluruh cabang filsafat ini disebut teodise.
Teologi metafisik sekarang ini masih tetap merupakan usaha untuk menciptakan ruang untuk dialog antara iman dan akal budi. Dialog ini sekarang lebih-lebih bersifat dialog dengan ateisme.
4.4. Etika
Etika atau filsafat moral adalah cabang filsafat yang berbicara tentang praksis manusiawi, tentang tindakan. Kata ‘Etika’ berasal dari kata Yunani ethos yang berarti ‘adat’, ‘cara bertindak’, ‘tempat tinggal’, ‘kebiasaan’. Kata ‘moral’ berasal dari kata Latin mos (geneti moris) yang mempunyai arti yang sama. Etika dibedakan dari semua cabang filsafat lain karena tidak mempersoalkan keadaan manusia, melainkan bagaimana ia harus bertindak.
Tindakan manusia ditentukan oleh macam-macam norma (latin: norma ‘siku’). Norma-norma dapat dibagi atas norma sopan santun, norma hukum, dan norma moral. Norma yang paling penting untuk tindakan manusia, norma moral, datang dari ‘suara batin’.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar