Terima Kasih Anda Telah Berkunjung di Blog Obet Nego Y. Agau

Jumat, 14 Juni 2013

MENGENAL SURAT-SURAT PROTO RASUL PAULUS YANG ASLI

MENGENAL SURAT-SURAT PAULUS YANG ASLI

1.   Surat 1 Tesalonika

Rupanya, surat 1 Tesalonika adalah surat Paulus yang pertama, yang ditulis menjelang akhir tahun 52.[1] Hampir semua ilmuwan biblika setuju bahwa surat ini merupakan dokumen Kristen tertua yang masih ada, sedangkan Injil-injil ditulis lebih satu dekade kemudian. Sarjana-sarjana modern yakin bahwa surat ini ditulis oleh Paulus dari Korintus, meskipun dalam beberapa manuskrip disebutkan bahwa Paulus menuliskannya dari Atena,[2] setelah Timotius kembali dari Makedonia membawa berita tentang keadaan jemaat di Tesalonika (Kis. 18:1-5; 1Tes. 3:6). Pada hakikatnya, sebagian besar surat ini bersifat surat pribadi, hanya dalam dua pasal terakhir berisi masalah doktriner.
Maksud utama Paulus menulis surat ini adalah untuk menguatkan dan meyakinkan kembali umat Kristen di sana. Paulus menasihatkan agar jemaat tetap terus bekerja dalam pengharapan mereka, menantikan kedatangan parousia. Jemaat Tesalonika hampir seluruhnya terdiri dari orang-orang Kristen kafir, yang agaknya cenderung kembali menyembah berhala mereka (1:9). Namun, Kisah Rasul melaporkan bahwa selama Paulus memberitakan Injil di sana, terdapat pula orang-orang Yahudi yang menjadi Kristen (Kis. 17:4), yang kemudian menjadi anggota jemaat.
Paulus prihatin karena jemaat belum dewasa. Ia hanya tinggal bersama jemaat di sana beberapa minggu sebelum berangkat ke Atena. Dalam keprihatinannya, ia mengirim Timotius untuk mengunjungi Tesalonika dan kembali dengan membawa laporan tentang keadaan jemaat. Sekalipun secara keseluruhan berita tentang keadaan jemaat menggembirakan, namun agaknya ada kesalahmengertian terhadap ajaran Paulus mengenai kekristenan. Paulus menggunakan sebagian surat ini untuk meluruskan kesalahmengertian tersebut dan menasihatkan jemaat Tesalonika untuk menguduskan hidup mereka, serta mengingatkan bahwa pengudusan jemaat adalah kehendak Allah demi kehidupan mereka.
Persoalan utama yang dihadapi jemaat antara lain adalah kesalahmengertian mengenai parousia. Rupanya Paulus telah mengajarkan hal ini, namun mereka salah mengerti, sehingga menimbulkan masalah dalam jemaat. Sebagian anggota jemaat mengira bahwa parousia akan segera terjadi, sehingga mereka berhenti bekerja dan dari sehari ke sehari hanya menantikan kedatangan Tuhan kembali. Karena mereka tidak lagi mencari nafkah, maka anggota jemaat yang lain harus mencukupkan kebutuhan mereka. Mereka hanya menjadi benalu bagi anggota jemaat yang lain. Di samping itu, terjadi pula ketegangan antara anggota jemaat dan para pemimpinnya. Untuk meredam ketegangan ini perlu adanya nasihat, bahwa Roh Kudus bekerja di antara mereka, dan kebenaran Allah sebagaimana dikatakan dalam Kitab Suci itulah yang harus dinyatakan.
Surat ini terbagi dalam dua bagian besar. Dalam tiga pasal pertama, Paulus mengungkapkan isi hatinya kepada jemaat mengenai hubungannya dengan mereka. Ia khawatir terjadi kesalahpahaman, seakan-akan dengan kepergiannya dari Tesalonika ia membiarkan jemaat mengalami penganiayaan. Karena itu, ia mengingatkan jemaat bahwa ia sendiri sedang mengalami keadaan sulit karena dikejar-kejar di Filipi; sekalipun demikian, hatinya tetap penuh keprihatinan atas keadaan jemaat Tesalonika. Karena itu Paulus berkata:

Kami selalu mengucap syukur kepada Allah karena kamu semua dan menyebut kamu dalam doa kami. Sebab kami selalu mengingat pekerjaan imanmu, usaha kasihmu dan ketekunan pengharapanmu kepada Tuhan kita Yesus Kristus di hadapan Allah dan Bapa kita” (1Tes. 1:2-3).

Paulus menyebut tiga hal penting yang menandai kehidupan jemaat Tesalonika, yaitu: pekerjaan iman, usaha kasih dan ketekunan pengharapan mereka. Hal ini lebih lanjut dijelaskan dalam ayat 9 bahwa mereka telah berbalik dari berhala-berhala kepada Allah untuk melayani Allah yang hidup dan benar. Itulah pekerjaan iman’ mereka. Usaha kasih mereka tampak dalam kesediaan mereka untuk menjadi alat kasih Allah. Ayat 10 menjelaskan ketekunan pengharapan mereka, yaitu menantikan kedatangan Anak Allah dari surga, yang telah dibangkitkan-Nya dari antara orang mati, yaitu Yesus, yang menyelamatkan kita dari murka yang akan datang.” Ketiga hal itu sekaligus merupakan garis besar isi pasal 1, 2 dan 3.
Dua pasal berikutnya merupakan bagian yang sangat praktis, dengan nasihat tentang bagaimana jemaat harus berperilaku di tengah ketertekanan. Bagian ini terbagi dalam empat bagian singkat. Nasihat pertama berkenaan dengan kehidupan kudus di tengah-tengah masyarakat yang dipenuhi amoralitas seksual. Dengan tandas Paulus menasihatkan agar jemaat hidup berkenan kepada Allah dan melakukannya dengan lebih bersungguh-sungguh (4:1). Tentu saja, hidup kudus dan berkenan kepada Allah hanya mungkin terjadi jika ada iman yang benar. Tanpa iman, tidak mungkin orang dapat hidup kudus dan berkenan kepada Allah. Mengenai kehidupan kudus ini, Paulus menjelaskan lebih lanjut dalam 4:3-8.
Nasihat kedua berkenaan dengan kasih persaudaraan dalam jemaat serta kemandirian hidup, yang sesungguhnya telah dipahami oleh jemaat (4:9-12). Nasihat ketiga berkenaan dengan kedatangan hari Tuhan dan agar jemaat selalu berjaga-jaga (4:13-5:11). Nasihat keempat berkenaan dengan ha-hal praktis seperti: sikap terhadap para pelayan jemaat, kesediaan untuk saling membangun dalam iman, saling mengingatkan dan menegur, nasihat agar senantiasa bersukacita dan berdoa, agar berserah diri kepada pimpinan Roh Kudus, agar menguji setiap ajaran serta berpegang pada ajaran yang benar dan menjauhi kejahatan (5:12-22).

2.   Surat 1 Korintus

Surat ini kemungkinan besar ditulis di Efesus pada musim semi tahun 55, sebelum penulisan surat Galatia. Pendapat ini didasarkan pada beberapa alasan:
1)      Jika dipersandingkan dengan surat Galatia, baik bahasa maupun isinya menunjukkan bahwa 1 Korintus ditulis lebih dulu.
2)      Dalam 1 Korintus tidak terdapat petunjuk mengenai pemahaman tentang Taurat sebagaimana tercermin dalam surat Galatia. Bahkan kata nomos (hukum) tidak ditemukan dalam 2 Korintus dan dalam 1 Korintus hanya digunakan delapan kali di empat tempat (1Kor. 9:8, 9, 20-22; 14:21; 15:56). Tidak seperti surat Galatia, dalam membicarakan Taurat, tidak satu pun di antara ayat-ayat tersebut menggunakan metafora yang rumit. Satu-satunya ayat yang mencerminkan garis pemikiran Paulus di kemudian hari hanyalah 1 Korintus 15:56.
3)      Dalam 1 Korintus tidak kita temukan doktrin pembenaran sebagaimana terdapat dalam surat Roma dan Galatia.
4)      Banyaknya kesamaan antara Galatia dan Roma menunjukkan bahwa Galatia ditulis sesaat lebih dulu sebelum surat Roma.

Pada tahun 146 sM, kota Korintus dihancurkan, namun tetap didiami. Pada 44 sM, kota ini dibangun kembali oleh Julius Caesar dan dijadikan koloni veteran Romawi, serta dijadikan ibu kota provinsi Akhaya pada 27 sM. Korintus kemudian menjadi pusat kegiatan komersial yang penting di antara Asia dan Yunani, kota yang kaya dan berlimpah dengan uang serta hasil-hasil industri. Di sana hidup sejumlah agama Hellenis. Paulus mendirikan jemaat Korintus pada 50, setelah pelayanannya di Filipi, Tesalonika, Berea dan Atena. Ia tiba di Korintus sendirian (Kis. 18:5), tetapi Silas dan Timotius segera bergabung. Paulus menetap di sana sekitar 1,5 tahun (Kis. 18:11), sehingga Korintus menjadi pos pekabaran Injilnya untuk seluruh daerah Efesus.
Kebanyakan anggota jemaat Korintus berasal dari orang-orang non-Yahudi (1Kor. 12:2). Hal ini tercermin dari persoalan-persoalan yang dihadapi jemaat, seperti keikutsertaan dalam upacara-upacara keagamaan kafir, penghakiman di depan orang-orang kafir dan pelacuran. Di samping masalah-masalah etis dan sosial, jemaat juga menghadapi perpecahan, yang berkisar pada masalah makanan yang dipersembahkan kepada berhala dan ketidakrukunan jemaat dalam perjamuan Tuhan (1Kor. 11:17-34) yang hanya dianggap sebagai pesta duniawi, serta pemahaman terhadap karunia-karunia Roh Kudus (1Kor. 12). Menghadapi itu semua, Paulus menekankan beberapa hal, antara lain:
-          Kesatuan jemaat sebagai tubuh Kristus (soma Khristou), dengan tugas dan fungsi yang berbeda-beda. Paulus mengritik berkem-bangnya individualisme dalam jemaat.
-          Kebenaran Injil tidak ditemukan dalam hikmat manusia, melainkan dalam iman kepada salib Kristus. Itulah hikmat Allah yang menjadi kebodohan bagi hikmat manusia.
-          Baptisan adalah pertanda pengudusan, karena itu, sebagai tubuh Kristus, jemaat harus hidup dalam kekudusan.
-          Pihak yang kuat dalam iman hendaknya mengingat mereka yang lemah, tidak boleh hanya mementingkan diri sendiri.
-          Bermacam-macam karunia Roh seharusnya menjadi manifestasi keesaan jemaat, seperti halnya tubuh memiliki bermacam-macam anggota.
-          Inti dari semua itu adalah kasih. 
 
3.   Surat 2 Korintus

Rupanya, setelah menulis suratnya yang pertama, Paulus pernah kembali berkunjung ke Korintus. Untuk menentukan tempat dan waktu penulisan surat ini, ada beberapa peristiwa penting yang perlu dipertimbangkan:

-          Perjalanan Paulus dari Efesus ke Korintus merupakan kunjungannya yang kedua (2 Kor. 12:14; 13:1).
-          Dengan tergesa dan sangat sedih, Paulus kembali ke Efesus, karena beberapa orang anggota jemaat melawannya (2 Kor. 2:3-11; 7:8, 12).
-          Atas peristiwa itu, Paulus kemudian menulis surat kesedihan yang dibawa oleh Titus ke Korintus (2 Kor. 7:5-9).
-          Di Asia Kecil, kehidupan Paulus berada dalam bahaya (2 Kor. 1:8).
-          Paulus mengadakan perjalanan dari Troas ke Makedonia (2 Kor. 2:12-13).
-          Di Makedonia ia bertemu dengan Titus yang sedang dalam perjalanan kembali ke Korintus (2 Kor. 7:5-7).

Berdasar rangkaian peristiwa-peristiwa yang terjadi lebih dari enam bulan di atas, kemungkinan 2 Korintus ditulis di Makedonia, paling lambat tahun 55 (bdk. 2 Kor. 7:5; 8:1-5; 9:3-4).
Dari 2 Korintus 10:1-8, terlihat bahwa para penentang Paulus (guru-guru palsu) memandang Paulus lebih rendah daripada kemampuan ekstatis dan kerohanian mereka. Terhadap tuduhan ini, Paulus menjawab bahwa ia bermegah dalam kelemahannya, sebab justru dalam kelemahan itulah kuasa Kristus bekerja. Doktrin rekonsiliasi Paulus dalam 2 Korintus 5:11 menimbulkan perdebatan, karena dua kata kerja Yunani yang digunakan Paulus, yaitu dilassō dan katalassō keduanya berhubungan dengan perdamaian secara politis.

4.   Surat Galatia

Ada dua kemungkinan yang dapat dipetimbangkan mengenai waktu dan tempat penulisan surat ini.
1)      Kemungkinan Galatia ditulis selama Paulus tinggal di Efesus, sesudah atau sebelum penulisan surat 1 Korintus dan dikirim dari Efesus.
2)      Alternatif yang lain, kemungkinan surat ini ditulis selama perjalanan Paulus melalui Makedonia, yaitu setelah penulisan surat 1 dan 2 Korintus, tetapi sebelum penulisan surat Roma.

Jika isinya dibandingkan dengan surat Roma, ternyata terdapat banyak kesamaan, antara lain: tentang kerasulan Paulus bagi orang kafir (Gal. 1:15-16, bdk. Rm 1:1-5); pembenaran oleh iman (Gal. 2:15-21, bdk. Rm. 3:19-28); tentang Abraham (Gal. 3:6-25, bdk. Rm. 4:1-25); tentang baptisan (Gal. 3:26-28, bdk. Rm. 6:3-5). Pemikiran-pemikiran Paulus yang terdapat dalam surat Galatia terdapat juga dalam surat Roma. Polemik yang terjadi di Galatia menjadi isu penting dalam surat Roma. Di samping itu, kedua surat tersebut menekankan doktrin tentang pembenaran dan bahwa keselamatan hanya diperoleh melalui iman, bukan karena melakukan hukum Taurat.
Dalam surat Galatia, masalah pengumpulan persembahan untuk jemaat Yerusalem tidak lagi diperdebatkan oleh para pelawan Paulus. Dapat diduga bahwa usaha untuk mengumpulkan bantuan bagi jemaat Yerusalem telah selesai sebelum surat ini ditulis. Karena itu, diperkirakan surat ini ditulis sebelum surat Roma, paling lambat tahun 55 di Makedonia.
Ada tiga masalah pokok yang dihadapi Paulus dan hendak dipecahkannya melalui suratnya kepada jemaat Galatia, yaitu:
(1)  Adanya sekelompok orang yang meragukan kerasulan Paulus. Hal ini dipecahkan dengan pembelaan diri Paulus (1:11-2:21).
(2) Adanya sekelompok orang yang ingin menambahkan ketaatan terhadap hukum Taurat sebagai syarat memperoleh keselamatan. Kemungkinan mereka adalah orang-orang Kristen-Yahudi yang menempatkan Taurat di atas segala-galanya. Mereka menuntut agar orang-orang Kristen kafir menaati hukum Taurat, terutama sunat, karena keselamatan Kristus saja dianggap tidak cukup. Paulus menandaskan bahwa keselamatan itu hanya diperoleh karena iman (3:1-29).
(3)  Adanya anggota-anggota jemaat yang salah pengertian dalam mengartikan kemerdekaan yang dihasilkan oleh karya keselamatan Kristus. Mereka berpendapat bahwa karya keselamatan Kristus telah membebaskan mereka dari segala tuntutan hukum, sehingga mereka merasa tidak perlu menaati hukum dan menganut prinsip antinomistis-libertinistis. Hal ini diselesaikan dalam pasal 5. 

5.   Surat Roma

Rupanya surat ini ditulis pada waktu Paulus bermaksud mengarahkan pekerjaan misionernya ke Barat. Ia menganggap pekerjaannya di wilayah Timur kekaisaran Romawi telah cukup dan ingin melanjutkan pelayanannya di Barat, terutama Spanyol. Ketika menulis surat ini, Paulus hampir berangkat ke Yerusalem untuk menyerahkan sum-bangan yang dikumpulkan di Makedonia dan Akhaya. Kemungkinan surat ini ditulis di Korintus, di rumah Gayus pada musim semi tahun 56, dan diantar kepada jemaat Roma oleh diakones Febe (Rm. 16:1-2).
Alasan Paulus menulis surat Roma adalah untuk memperoleh dukungan, baik personal maupun material dari jemaat Roma bagi misi pekabaran Injilnya ke Spanyol. Itulah sebabnya Paulus memperkenalkan diri dengan jalan menguraikan pandangan teologisnya secara panjang lebar. Sementara itu, perlawanan orang-orang Yahudi-Kristen, terutama di Yerusalem, makin merebak. Paulus membeberkan perdebatan-perdebatannya dengan para pelawannya, agar jemaat Roma menjadi saksi. Garis perdebatan Paulus tampak masih dipengaruhi oleh perselisihannya dengan jemaat Galatia, termasuk tentang hubungan antara mereka yang kuat dan yang lemah. Sedangkan pergumulannya mengenai kedudukan Israel dalam pasal 9-11 terkait erat dengan doktrinnya tentang pembenaran.
Jadi, secara ringkas ada empat faktor yang mendorong Paulus menulis surat kepada jemaat Roma, yaitu:
(1)   Paulus membutuhkan dukungan dan bantuan jemaat Roma untuk rencana misionernya ke Spanyol.
(2)   Ia membutuhkan dukungan berkenaan dengan kemungkinan terjadinya perdebatan dengan orang-orang Kristen-Yahudi di Yerusalem ketika ia menyerahkan persembahan untuk jemaat Yerusalem.
(3)   Paulus ingin menangkis agitasi para pelawan Yahudi terhadap misi Paulus, yang diduga telah mempengaruhi jemaat Roma. Menurut F.C. Baur, di Roma telah ada kelompok anti universalisme Paulus yang berusaha menyingkirkan orang-orang kafir dari anugerah Allah.
(4)   Paulus ingin menjelaskan pokok-pokok teologinya.

Asal-usul jemaat Roma tidak dapat dilepaskan dari sejarah komunitas Yahudi di Roma, yang berkembang sejak 139 sM. Mereka berkembang pesat terutama setelah kematian Herodes. Beberapa kali komunitas Yahudi di Roma mengalami penganiayaan, antara lain oleh Kaisar Tiberius pada 19 M dan keluarnya edik Klaudius akibat pertentangan orang-orang Yahudi di Roma dengan orang-orang Kristen perihal nama Khristos (Kristus).
Kekristenan sampai di Roma melalui lalu-lintas perdagangan dan bisnis para pengusaha Kristen, yang sekaligus juga misionaris. Ada dua jemaat Paulin di sana (mungkin hasil pekabaran Injil para murid Paulus), yaitu di Putioli dan di Roma (Kis. 28:13, 15). Edik Klaudius membawa dua macam akibat bagi jemaat Kristen di Roma, yaitu: terpisahnya jemaat Kristen dari sinagoge dan orang Yahudi-Kristen menjadi minoritas dalam jemaat. Sebelum keluarnya edik Klaudius tersebut, mayoritas anggota jemaat adalah orang-orang Yahudi.
Surat Roma ditulis ketika mayoritas anggota jemaat masih orang-orang Yahudi-Kristen. Disebutnya 28 nama pribadi-pribadi dalam surat ini menunjukkan bahwa dalam jemaat Roma terdapat strata sosial. Jemaat-jemaat di Roma merupakan jemaat-jemaat rumah atau jemaat-jemaat mandiri. Namun waktu itu, secara organisatoris, jemaat-jemaat belum terpisah satu sama lain. Mereka masih sering berkumpul di suatu aula yang luas. Itulah sebabnya Paulus tidak mengalamatkan suratnya kepada suatu persekutuan lokal tertentu, melainkan kepada “kamu sekalian yang tinggal di Roma, yang dikasihi Allah, yang dipanggil dan dijadikan orang-orang kudus” (Rm. 1:7).
Sekalipun surat Roma mengandung unsur-unsur sebuah surat, sebagaimana terdapat dalam surat-surat Paulus yang lain, namun ada bagian luas yang berupa pengajaran monolog dan tidak ditujukan untuk suatu situasi konkret yang sedang dihadapi jemaat, sehingga terkesan gaya retorisnya. Karena itu, surat ini sering disebut sebagai ‘firman pengajaran’ (logos protreptikos).
Bagi Paulus, hanya dalam Injillah keselamatan dan kebenaran Allah dinyatakan kepada semua orang percaya, baik orang Yahudi maupun orang Yunani. Jika kriterium keselamatan adalah perbuatan baik, maka tidak ada seorang pun dapat diselamatkan, karena semua manusia berdosa dan tidak ada seorang pun yang benar (Rm. 3:10-18). Manusia hanya dapat dibenarkan oleh anugerah Allah melalui iman, bukan karena menjalankan hukum Taurat (Rm. 3:20). Abraham pun dibenarkan karena imannya bukan karena perbuatannya (Rm. 4).
Mengenai Israel, bagi Paulus pemilihan umat ini semata-mata adalah anugerah Allah. Hal itu masih tetap berlaku, hanya saja, saat ini Israel masih berada dalam krisis, karena belum dapat menerima penyataan diri Allah dalam Kristus. Dalam pasal 9-11, Paulus mempersandingkan antara kesetiaan Allah dengan ketidaksetiaan Israel. Dari iman mereka dapat dibedakan antara Israel sebagai anak-anak kedagingan dengan Israel sebagai anak-anak perjanjian.
Nasihat-nasihat Paulus didasarkan pada apa yang telah diuraikan dalam pasal 6-8. Intinya adalah agar seluruh kehidupan dipersembahkan kepada Allah, karena orang-orang percaya telah dipersatukan dalam Kristus melalui baptisan. Tentang hubungan antara gereja dan negara (Rm. 13:1-7), Paulus tidak mengajukan teori mengenai negara atau legitimasi ilahi terhadap wibawa pemerintah, melainkan menyodorkan paranesis mengenai sikap bertanggung jawab orang percaya terhadap negara.

6.   Surat Filipi

Surat ini ditulis oleh Paulus ketika ia sedang berada dalam penjara (Flp. 1:7, 13, 17). Paulus menerima bantuan finansial dari jemaat Filipi yang dikirim melalui Epafroditus. Dengan perantaraan dia pula Paulus mengucapkan terima kasih dan menyatakan pujiannya kepada jemaat Filipi melalui surat yang dikirimkannya.
Dari penjara manakah Paulus menulis surat ini? Ada beberapa kemungkinan: penjara Roma, Kaesaria atau Efesus. Disebutnya ‘istana kaisar’ (1:13; 4:22) mengindikasikan bahwa ia sedang berada dalam penjara di Roma. Keberatannya, Roma terlalu jauh jaraknya dari jemaat yang disuratinya. Namun perlu diingat, transportasi dari Roma ke Filipi cukup bagus dan lancar. Jika ditempuh menggunakan perahu membutuhkan waktu kira-kira dua minggu. Rupanya jemaat Filipi mendengar kabar tentang pemenjaraan Paulus dan ikut bersimpati atas musibah yang dialami Paulus.
Menyadari bahwa jemaat Filipi membutuhkan pertolongan dan bimbingan rohani, mereka mengutus Epafroditus untuk mengunjungi  dan menyampaikan bantuan kepada Paulus, serta memohon agar Paulus mengirimkan kembali Timotius ke Filipi. Namun dalam perjalanan ke Roma, Epafroditus menderita sakit keras, sehingga tidak dapat memenuhi tugasnya dengan cepat. Ketika Epafroditus tiba di Roma, Paulus telah dipenjarakan kurang lebih satu tahun. Sumbangan jemaat diterima Paulus sebagai anugerah Allah, dan ia sangat berterima kasih kepada jemaat atas persembahan mereka. Permintaan jemaat tidak dapat dipenuhi, karena hanya Timotius sendirilah yang membantu Paulus dalam masa-masa sulitnya (Flp. 2:19-30). Paulus menyadari bahwa kembalinya Epafroditus tanpa Timotius akan sangat mengecewakan jemaat. Jika benar bahwa Paulus sedang berada dalam penjara di Roma, maka surat ini kira-kira ditulis sekitar tahun 60.
Jemaat Filipi adalah jemaat Paulin yang pertama di Eropa, yang didirikan oleh Paulus sekitar tahun 49-50. Warga jemaatnya terdiri dari campuran orang-orang Yahudi, orang-orang kafir dan mereka yang disebut sebagai “orang-orang yang takut akan Tuhan.” Hubungan Paulus dengan jemaat sangat baik, bahkan Paulus menjamin bahwa jemaat Filipi mendukung pelayanannya secara finansial (4:18). Setelah mendirikan jemaat Filipi, paling tidak Paulus pernah sekali mengunjungi mereka. Sampai saat surat ini ditulis, hubungan Paulus dengan jemaat tetap baik, meskipun di antara anggota jemaat ada pula yang menentangnya (1:27-30; 2:21). Merekalah yang secara tajam dikritik oleh Paulus dalam pasal 3:2 dbr. Agaknya, dalam jemaat sendiri ada beberapa ketegangan (2:1-4), sebagaimana Paulus menyinggung perselisihan antara Euodia dan Sintikhe, dua kawan sekerjanya (4:2-3).
Di samping mengungkapkan konsep-konsep teologisnya sendiri, dalam surat ini Paulus juga mengambil fragmen-fragmen tradisi Kristen awal, misalnya hymne Kristus dalam Filipi 2:6-11. Kata-kata seperti ‘ditinggikan’ (huperupsoun), ‘di bawah bumi’ (kataksthonios), ‘bentuk’ (morfē) dan ‘kesetaraan’ (harpagmos), yang secara harfiah dapat pula berarti ‘sesuatu yang dieksploitasi,’ merupakan kata-kata yang berasal dari tradisi.
Tentang para pelawan yang dihadapi Paulus dalam surat ini, ada bermacam-macam pendapat. Walter Schmithal, Georg Klein dan Gerhard Friedrich berpendapat bahwa Paulus mungkin menghadapi pengaruh Yudaisme, orang-orang Kristen Gnostik atau para misionaris Yahudi, seperti disebutkan dalam 2 Korintus.[3] Sedangkan menurut Martin Dibelius dan G. Braumbach, polemik Paulus ditujukan kepada dua sasaran, yaitu orang-orang Kristen Yahudi yang masih menjunjung tinggi Taurat sebagai syarat keselamatan dan pandangan libertinisme Hellenis.[4] Menurut Ernst Lohmeyer, Paulus mengalamatkan polemiknya untuk tiga sasaran, yaitu: Yudaisme, libertinisme dan kemurtadan.[5] Namun yang jelas, Paulus berjuang, antara lain, melawan para misionaris Yahudi, yang disebutnya sebagai ‘anjing-anjing’ (kunas, 3:2-11).
Penafsiran atas teks Filipi yang berkenaan dengan lawan-lawan Paulus (mis. 1:15-17, 27-28; 3:2, 18-19, demikian pula 2:14-16 dan 3:12-16), bermacam-macam. Dari ayat-ayat tersebut tersirat bahwa dalam jemaat agaknya ada beberapa kelompok pelawan Paulus. Salah satunya secara spesifik menunjuk kepada pribadi-pribadi tertentu, yang terus dibicarakan Paulus, sekalipun ia berada dalam penjara. Mereka itulah yang disebut ‘saudara-saudara,’ yang memberitakan Injil dengan motif yang tidak jujur, yaitu untuk menjatuhkan Paulus. Peringatan dalam 1:27-28 mencerminkan oposisi dari orang-orang kafir. Filipi 3:2 menunjuk pada ahli-ahli hukum Taurat, yang digambarkan sebagai orang-orang Kristen Yahudi. Sedangkan yang disebut sebagai ‘seteru salib’ dalam 3:18-19 agaknya adalah kelompok guru-guru palsu yang tidak bermoral. Mereka menganut prinsip moral libertinistis-antinomistis. Jadi, rupanya ada lebih dari dua atau tiga macam lawan-lawan Paulus.

7.   Surat Filemon

Pada abad XIX, autentisitas Filemon dipersoalkan oleh F.C. Baur. Namun dewasa ini tidak ada lagi yang meragukan bahwa Filemon merupakan surat Paulus yang autentik. Berdasar fakta bahwa saat itu Paulus sedang dalam penjara (ayat 1, 9, 13); Timotius dan beberapa pembantunya yang lain ada bersama Paulus (ayat 1, 23, 24); dan kondisi penjara yang tidak moderat, seperti digambarkan dalam surat Filipi (1:23-24), maka diperkirakan surat ini ditulis dari dalam penjara di Roma, kira-kira pada 61.
Sesuai dengan alamatnya, surat ini ditujukan kepada Filemon, yang disebut Paulus sebagai ‘saudara’ dan ‘kawan sekerja’ (sunergos, ayat 1). Tetapi, di samping itu, surat ini juga ditujukan kepada Apfia, Arkhipus dan jemaat yang berkumpul di rumah Filemon.
Surat ini dikirimkan berkenaan dengan pelarian Onesimus, budak Filemon. Pada waktu itu, perbudakan masih merupakan sesuatu yang lazim di tengah masyarakat. Populasinya sulit ditentukan, tetapi kemungkinan sampai 25% atau bahkan 50% dari jumlah penduduk kota. Masalah perbudakan dan status budak dalam jemaat memang menjadi persoalan. Paulus tidak dengan terang-terangan menentang perbudakan, namun menyarankan apa yang sebaiknya dilakukan oleh orang Kristen dalam masalah ini. Solusi yang dikemukakan adalah agar jemaat menerima budak-budak itu sebagai saudara dalam Tuhan. Tentang Onesimus yang dikirim kembali kepada Filemon, Paulus menasihatkan agar Filemon belajar dari relasi dirinya sendiri dengan Paulus.
Apakah Onesimus sungguh-sungguh melarikan diri dari Filemon, tuannya, atau hanya absen beberapa waktu untuk mencari Paulus dalam rangka memohon pembelaannya untuk mengatasi konfliknya dengan Filemon, tidak dapat dipastikan. Hal yang menarik, nama Onesimus juga disebut dalam Kolose 4:9. Dalam ayat itu dikatakan bahwa Paulus bermaksud mengirim Onesimus, pembantunya yang dekat dan setia, kepada jemaat Kolose. Jika yang dimaksud Onesimus di sini adalah orang yang sama, maka dapat disimpulkan bahwa Filemon tidak hanya memaafkan Onesimus, tetapi juga membebaskan dia untuk melayani Paulus secara pribadi, dalam rangka pekerjaan misinya. Namun yang jelas, Paulus hanya minta kepada Filemon agar Onesimus diterima kembali sebagai saudara dalam Tuhan.




[1] Raymond E. Brown, An Introduction to the New Testament, Anchor Bible, 1997, hlm. 456-466.
[2] Ernest Best, The First and Second Epistles to the Thessalonians (New York: Harper and Row, 1972), hlm. 7.
[3] Walter Schmithals, “The False Teachers of the Epistle to the Philippians,” dalam John E. Steely (trsltr), Paul and the Gnostics (Nashville and New York: Abingdon Press, 1972), hlm. 65-122; bdk. Gerd Lüdemann, Opposition to Paul in Jewish Christianity (Philadelphia: Fortress, 1989), hlm. 104-109.
[4] Martin Dibelius, An die Philipper (Tübingen: J.C.B. Mohr, HNT 11, 21925).
[5] Ernst Lohmeyer, Der Brief an die Philippier, und die Kolosser ung an Philemon, KEK 9.1. (Göttingen: Vandenhoeck & Ruprecht, 1974).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar