Terima Kasih Anda Telah Berkunjung di Blog Obet Nego Y. Agau

Jumat, 14 Juni 2013

BELAJAR CARA MENAFSIR HYMNE DIDALAM ALKITAB PADA PERJANJIAN BARU

MENAFSIR HYMNE DALAM PB
Bahan Kuliah IX

1.   Prinsip-prinsip menafsir hymne atau madah pujian

Dalam teks-teks PB, kadang-kadang kita menemukan bagian yang berbentuk hymne atau madah pujian. Ciri-cirinya antara lain: bentuk sastranya, ritmenya, kosa katanya yang tidak lugas, tata bahasa dan susunannya. Disadari sepenuhnya bahwa membedakan hymne dengan narasi biasa tidak selalu mudah. Hymne tersebut mungkin digubah langsung oleh penulis/penyusun kitab-kitab atau surat-surat dalam PB, namun mungkin pula merupakan kutipan sebagian atau bahkan keseluruhan hymne yang sudah ada sebelumnya.

Bahasa sebuah hymne tentu saja tidak sama dengan prosa, melainkan lebih dekat dengan puisi; atau lebih tepatnya, merupakan kidung pujian. Makna kata-katanya dapat lugas, namun dapat pula simbolik. Dalam hymne tentu terdapat pribadi atau sesuatu yang menjadi subjek pujian. Tentu saja, di balik sebuah hymne terkandung pula alasan mengapa pribadi atau subjek itu dipuji. Lazimnya alasan pujian tersebut berkenaan dengan posisi, peran atau fungsi subjek yang dipuji. Oleh sebab itu, lazimnya hymne bernada positif: berupa pujian dan pengagungan. Tidak dapat diingkari bahwa dalam sebuah hymne terkandung pula pemikiran teologis dan gagasan-gagasan religius penggubah atau orang yang mengutipnya. Dalam rangka menangkap pesan atau pesan-pesan yang hendak disampaikan, hal ini amat penting dicermati oleh penafsir.
  
Sama seperti langkah-langkah hermeneutis dalam memahami teks-teks PB pada umumnya, dalam menafsirkan hymne pun kita perlu terlebih dulu merekonstruksi teks ke dalam jalinan kontekstualnya secermat mungkin. Sehubungan dengan itu, ada baiknya kita perhatikan pendapat Howard W. Norton dalam artikelnya The New Hermeneutic: A Sign of Apostasy?” (1992):

“Two important steps are involved in Bible study. The first step is to discover what the original author actually intended to say to the readers of his day. The process is called ‘exegesis’ and is fundamental to the task of effective Bible study. A second step in good Bible study is to apply the original message to our day. This step is called ‘hermeneutics’ a word which comes from the Greek language and means ‘interpretation’ or ‘explanation’.”

Sekalipun demikian, presuposisi (pre-understanding) penafsir tidak mungkin pula diabaikan, sebagaimana ditandaskan oleh Bultmann:

“… it is not possible to have an exegesis of a biblical text without presuppositions which guide comprehension. “Pre-understanding” (Vorvërstandnis) is founded upon the life-relationship (Lebensverhältnis) of the interpreter to the reality of which the text speaks. To avoid subjectivism, however, one must allow pre-understanding to be deepened and enriched – even to be modified and corrected – by the reality of the text.”
 
Untuk menghindarkan diri dari prasangka subjektif atas teks, ada beberapa hal yang mungkin perlu kita perhatikan dan kita teliti dengan seksama:

-          Di manakah tempat hymne itu dalam struktur keseluruhan surat/kitab yang ditafsirkan?
-          Dari manakah asal-usul hymne tersebut?
-          Apakah maksud semula hymne tersebut digubah?
-          Untuk siapakah hymne tersebut dimaksudkan?
-          Adakah masalah utama yang hendak dipecahkan melalui hymne itu?
-          Bagaimanakah makna terminologi-terminologi atau perkataan-perkataan yang digunakan?
-          Apakah inti pesan atau pesan-pesan yang hendak disampaikan oleh penggubah atau orang yang mengambil-alihnya?

Pada 23 April 1993, Komisi Biblika Kepausan mempresentasikan sebuah paper tentang hermeneutika gereja di depan Paus Yohanes Paulus II, dengan judul The Interpretation of the Bible in the Church.” Paper ini pernah dimuat dalam majalah Origins, 6 Januari 1994. Dalam paper tersebut ada tiga hal yang ditandaskan untuk menafsirkan teks Alkitab, yaitu: pertama, menemukan makna literal (dalam hal ini, literal’ dibedakan dengan literalis’). Kedua, menemukan makna spiritual (berusaha memahami pesan teks di bawah pimpinan Roh Kudus). Ketiga, menemukan makna yang lebih penuh,’ yaitu makna yang dimaksudkan Allah, makna yang lebih dalam di balik teks, namun tidak diungkapkan secara jelas oleh penyusun manusiawinya. Tentu saja di kalangan gereja Katolik, prinsip penafsiran ini juga dikenakan dalam menafsirkan sebuah hymne.   

2.   Contoh analisis hermeneutis atas hymne 1 Korintus 1:22-24, 30-31

a.   Latar belakang teks

Ada indikasi bahwa Paulus mengidentifikasi Yesus sebagai Hikmat. Di awal surat 1 Korintus (1:18-31), Paulus menyinggung pemahamannya terhadap Yesus sebagai Hikmat. Dapat dikatakan bahwa ayat-ayat tersebut merupakan dasar utama bagi kristologi hikmatnya. Para ahli memang berbeda-beda pendapat mengenai hikmat yang dimaksudkan Paulus dalam teks tersebut. Ada yang berpendapat bahwa Paulus mengambil-alih pengertian hikmat lawan-lawannya (Ulrich Wilckens), sementara yang lain berpendapat bahwa secara independen Paulus menyifatkan Yesus sebagai Taurat Baru (Martin Hengel, W.D. Davies). Ada pula yang berpendapat bahwa secara eksplisit Paulus mengidentifikasi Yesus sebagai personifikasi Hikmat (A. Feulillet), sementara yang lain mengatakan bahwa yang dimaksud hikmat di sini adalah rencana penyelamatan Allah (James Dunn).[1] Sekalipun ada bermacam-macam pendapat, yang jelas adalah bahwa: (a) Paulus mengidentifikasi Yesus sebagai Hikmat, (b) Paulus secara bebas menggunakan hymne pra Kristen yang sudah ada untuk mengungkapkan pemahamannya terhadap diri Yesus dan (c) Paulus menggunakan secara bebas bahasa yang memiliki konteks luas dalam sastra hikmat untuk mengungkapkan pemahamannya terhadap diri Yesus.

Sebagai seorang Farisi yang terpelajar, Paulus sadar penuh akan latar belakang pemikiran teologisnya dan konsep-konsep agamawi yang dimilikinya. Karena itu, wajar jika ia mengidentifikasi Hikmat, yang aktif dalam penciptaan itu, dengan Yesus yang disalibkan dan yang telah bangkit itu. Hal ini menjadi lebih jelas ketika dalam surat ini Paulus memaparkan peranan Yesus dalam penciptaan, “Namun bagi kita hanya ada satu Allah saja, yaitu Bapa, yang dari pada-Nya berasal segala sesuatu dan yang untuk Dia kita hidup, dan satu Tuhan saja, yaitu Yesus Kristus, yang oleh-Nya segala sesuatu telah dijadikan dan yang karena Dia kita hidup” (1 Kor. 8:6).

Jelas ada paralelisme antara ayat tersebut dengan teks hikmat (Amsal 3:19). Secara implisit, Paulus mengidentifikasi Yesus dengan Hikmat yang dipersonifikasi. Namun menurut James Dunn, berdasar teks tersebut tidak dapat disimpulkan bahwa hikmat itu ilahi, atau bahwa Yesus dipahami sebagai yang pra-eksisten, ada bersama Allah sejak purbakala. Yang dapat dikatakan hanyalah bahwa Yesus merupakan pengejawantahan Hikmat Ilahi, sebagai puncak pengejawantahan kuasa kreatif Allah dan rencana penyelamatan-Nya atas manusia yang paling nyata. Dunn berpendapat bahwa dalam teks ini terlihat perubahan pemikiran Paulus ke arah trinitarian. Ia mengatakan bahwa di sinilah kita melihat asal-usul doktrin inkarnasi.[2] Namun, menurut hemat saya, mengingat latar belakang keyahudian Paulus yang keras, yang tetap setia pada iman monoteismenya, sulit untuk mengatakan bahwa Paulus telah memperkenalkan pemikiran trinitarian.

b.   Analisis eksegetis atas teks 1 Korintus 1:22-24, 30-31

22.   Orang-orang Yahudi menghendaki tanda dan orang-orang Yunani menghendaki hikmat,
23.   tetapi kami memberitakan Kristus yang disalibkan: untuk orang-orang Yahudi suatu batu sandungan dan untuk orang-orang bukan Yahudi suatu kebodohan,
24.   tetapi untuk mereka yang dipanggil, baik orang Yahudi maupun orang bukan Yahudi, Kristus adalah kekuatan Allah dan hikmat Allah.

30.   Tetapi oleh Dia kamu berada dalam Kristus Yesus, yang oleh Allah telah menjadi hikmat bagi kita. Ia membenarkan dan menguduskan dan menebus kita.
31.   Karena itu seperti ada tertulis: “Barangsiapa yang bermegah, hendaklah ia bermegah di dalam Tuhan.”

Pernyataan ‘Sebab perkataan tentang salib’ pada awal perikop 1 Korintus 1:18-31 tidak dapat dipahami secara tepat terlepas dari apa yang telah terjadi sebelumnya. Baru saja Paulus berbicara bahwa ia diutus bukan untuk membaptiskan, melainkan untuk memberitakan Injil. Itupun harus ia lakukan “bukan dengan hikmat perkataan, supaya salib Kristus tidak menjadi sia-sia” (ayat 17). Dalam hal ini, hikmat perkataan dipertentangkan dengan salib Kristus. Menarik untuk diperhatikan, bahwa ‘hikmat perkataan’ dalam teks aslinya berbentuk jamak, sedangkan ‘salib Kristus’ dalam bentuk tunggal. Bentuk jamak ‘hikmat perkataan’ mengindikasikan adanya keragaman, sedangkan bentuk tunggal ‘salib Kristus’ mengindikasikan ketunggalan (sebagai yang satu-satunya) dan kesempurnaannya.[3]

Pokok masalah yang dibicarakan Paulus dalam perikop ini adalah hikmat (sofia). Dari pasal 1 hingga pasal 3, kata sofia digunakan tidak kurang dari 16 kali. Sekalipun kata Yunani sofia akrab dengan pemikiran Hellenistik, rupanya gagasan hikmat yang dipaparkan Paulus bukanlah hikmat dalam pengertian Hellenis, melainkan Hebrais, seperti dalam kitab-kitab hikmat PL.

Pada satu pihak, Paulus berhadapan dengan hikmat perkataan, dan pada pihak lain, ia berada dalam gagasan mengenai hikmat sebagai penyataan Allah. Perbedaan keduanya didasarkan pada penyataan ilahi. Hikmat perkataan tidak berasal dari penyataan ilahi, sedangkan hikmat Paulus adalah Hikmat Allah. Keduanya sama sekali bertentangan. Dalam ayat 18, Paulus mengatakan bahwa pemberitaan tentang salib merupakan kebodohan bagi orang-orang yang berpegang pada hikmat manusia. Namun dalam ayat 19-20, ia menunjukkan kesia-siaan hikmat manusia. Kutipan Yesaya 29:14 dalam ayat 19 dan pencerminan Yesaya 19:11-12; 33:18; 44:25; Ayub 12:17 dalam ayat 20, menunjukkan bahwa Paulus berpijak pada PL.[4] Dalam ayat 21-24, Paulus menunjukkan bahwa Allah justru akan menyelamatkan mereka yang menerima apa yang dianggap kebodohan oleh dunia. Bahkan ia menandaskan bahwa, baik bagi orang Yahudi, maupun orang bukan Yahudi, Kristus akan menjadi kekuatan mereka, karena Ia Hikmat Allah.        

Logos (pemberitaan) tentang salib adalah totalitas kebenaran yang ada di dalam dan dinyatakan melalui salib Kristus. Logos itu kebenaran, bahkan bukan hanya kebenaran, melainkan kebenaran yang dinyatakan atau kebenaran yang dimanifestasikan. Dalam ho logos ho tou staurou (pemberitaan tentang salib) kebenaran yang sesungguhnya diejawantahkan dan dilekatkan. Namun, menurut Paulus, ‘bagi mereka yang akan binasa’, itu merupakan ‘kebodohan’. Yang dianggap kebodohan bukanlah tindakan memberitakan, melainkan isi yang diberitakan. Kata Yunani untuk ‘kebodohan’, mōria, lebih tepat diterjemahkan dengan ketololan atau absurditas.[5] Bagi orang-orang itu, mempercayai berita tentang Kristus yang disalibkan sebagai jalan keselamatan manusia, merupakan suatu ketololan. Mengapa mereka akan binasa? Ya, karena mereka menganggap salib sebagai suatu ketololan. Alasan pembinasaan itu adalah sikap mereka terhadap salib.

Dari sikap mereka, yang menganggap salib sebagai kebodohan, tampak bahwa sesungguhnya mereka tidak mengenal Allah (ayat 21). Semua hikmat dan filsafat -dalam ukuran Hikmat Allah- gagal untuk mengenal Allah. Mereka yang berpegang pada hikmat itu tidak pernah menemukan Allah. Tetapi, justru mereka yang menerima kebodohan dunia, akan melihat dan mengenal Hikmat Allah, sehingga Allah menyelamatkannya.

Paulus mempersalahkan, baik orang Yahudi, maupun orang Yunani (ayat 22). Orang Yahudi hanya menyukai tanda-tanda mujizat. Hal ini jelas dari tanggapan orang banyak ketika mereka menyaksikan pelayanan Yesus. Bagi mereka, salib bukanlah tanda mujizat, melainkan batu sandungan (ayat 23). Tanda-tanda mujizat yang mereka harapkan adalah keajaiban-keajaiban material yang spektakuler. Ketika mendengar bahwa salib merupakan jalan keselamatan, mereka tersandung karenanya. Bagi Orang Yunani, salib merupakan kebodohan (ayat 23). Gagasan bahwa Yesus adalah penyataan diri Allah, merupakan sesuatu yang absurd bagi mereka. Apa lagi jika dikatakan bahwa kematian-Nya di kayu salib merupakan jalan untuk mencapai pembaruan moral dan sebagai kekuatan hidup manusia, hal itu sungguh-sungguh tidak masuk akal.[6]

Namun Paulus menandaskan bahwa yang diberitakannya adalah Kristus yang disalibkan, sebab Dia itulah Kekuatan dan Hikmat Allah (ayat 24). Pernyataan Paulus di sini tentu dalam pengertian Yudais, bahwa Hikmat Allah adalah penyataan diri Allah atau ungkapan kehadiran Allah. Jika Kristus yang disalibkan itu disebut sebagai Kekuatan dan Hikmat Allah, berarti di dalam diri-Nya, Allah menghadirkan diri, terutama dalam karya penyelamatan-Nya bagi manusia. Hal ini dipertegas dalam ayat 30 dan 31, bahwa di dalam Kristus, yang karena kehendak Allah telah menjadi hikmat bagi kita, kita dibenarkan, dikuduskan dan ditebus. Hanya di dalam dan melalui penyataan diri Allah manusia dapat berelasi dengan Allah secara benar. Itulah sebabnya orang yang menaruh kepercayaan kepada-Nya boleh bermegah di dalam Tuhan.  

Sofia dalam ayat 17, 19, 21 dan 24, kini menemukan maknanya. Dalam pemikiran spekulatif Yahudi (lihat. Ams. 8:22-31, Keb. 7:22-8:1), Hikmat yang dipersonifikasi merupakan sosok yang memiliki peran penting dalam peranannya sebagai mediator antara Allah dengan manusia, baik dalam penciptaan, dalam penyataan pengertian, maupun dalam penyelamatan. Paulus menggunakan terminologi Hikmat ini untuk maksud kristologisnya. Hikmat yang benar tidak didapatkan dalam kefasihan berbicara atau dalam spekulasi gnostis mengenai hakikat Allah, melainkan dalam pewujudnyataan rencana Allah untuk menebus dunia ini. Dalam terang rencana penyelamatan Allah ini, semua hikmat dunia menjadi kesia-siaan dan kebodohan.[7] 

c.   Simpul-simpul eksegetis

1)   Dalam perikop 1 Korintus 1:18-31, Paulus demikian mendasar membicarakan hikmat, sehingga kata ‘hikmat’ (sofia) disebutkan sebanyak 16 kali. Dalam hal ini Paulus banyak bertolak dari konsepsi-konsepsi PL (Yes. 29:11-12, 14; 33:18; 44:25; Ayb. 12:17, Ams. 8:22-31; Keb. 7:22-8:1, dsb.) dan dapat diduga bahwa ia telah mengutip rumusan madah-madah hikmat jemaat mula-mula. Hal yang menarik, pembahasan tentang hikmat tersebut dihubungkan dengan pribadi Kristus, terutama Kristus yang disalibkan. Makna salib Kristus tidak dapat dipahami semata-mata dari pemikiran manusia, baik dari gagasan Yahudi, yang menitikberatkan mujizat-mujizat, maupun dari gagasan Yunani, yang menekankan pemahaman spekulatif tentang keberadaan (being) Allah. Salib hanya dapat dimengerti secara penuh jika diletakkan dalam terang penyataan Allah. Dengan cara ini, Yesus dipahami sebagai penyataan kehadiran Allah. Peristiwa salib Kristus dimengerti sebagai pewujudnyataan rencana penyelamatan Allah.

2)   Sekalipun sepintas kemasan bahasanya terasa Hellenistik, namun gagasan yang hendak diungkapkannya bertolak dari cara berpikir Yudais. Memang, dalam dunia Hellenisme, sofia sudah sangat dikenal, karena ia merupakan salah satu aeon hasil emanasi Propator (Bapa Yang Pertama) yang sangat berhasrat mengenal kepenuhan (plēroma) Bapa. Namun, sofia bagi Paulus bukanlah aeon Propator, melainkan sosok yang dipersonifikasi sebagai yang mengejawantahkan kehadiran Allah. Gagasan seperti ini sudah ada dalam kehidupan orang-orang Yahudi, terutama setelah berkembangnya sastra hikmat. Di sini Paulus tidak bermaksud membicarakan hakikat pribadi Yesus, melainkan peranan dan fungsi-Nya sebagai revealer (penyata) kehadiran Allah, yang bertindak menyelamatkan manusia.

3)   Dalam terang pemikiran di atas, segala hikmat manusia, yang menganggap isi pewartaan Paulus (yaitu Yesus yang disalibkan) sebagai batu sandungan atau kebodohan, menjadi sia-sia. Kriterium untuk menentukan kebenaran hikmat adalah penyataan Allah, karena pada hakikatnya hikmat adalah kebenaran Allah, sekaligus sebagai kebenaran yang dinyatakan. Itulah sebabnya, penerimaan terhadap Hikmat memungkinkan manusia memperoleh pembenaran, pengudusan dan penebusan.      

d.   Penerapan/aplikasi

Berdasar konteks kekiniannya dengan segala permasalahan yang sedang dihadapi, seorang penafsir diberi kebebasan untuk menerapkan hasil analisis eksegetis di atas. Namun inti pokoknya adalah membuat firman yang sudah difirmankan di masa lalu menjadi firman yang sedang difirmankan saat ini.   

Semoga bermanfaat.
BS



[1] Dennis Edwards, Jesus The Wisdom of God, An Introduction to The Wisdom of The Bible, (London: Lutterworth Press, 1963), hlm. 38-39.
[2]  Ibid. hlm. 38-39.
[3] G. Campbell Morgan, The Corinthian Letters of Paul (New Jersey: Fleming H. Revell Company, tt.), hlm. 29-30
[4] C.K. Barrett, The First Epistle to the Corinthians (London: A & C Black, 2nd ed., 1992), hlm. 52; bnd. Warren W. Wiersbe, Hikmat di dalam Kristus (Bandung: Kalam Hidup, 1983), hlm. 22.
[5] William F. Arndt & F. Wilbur Gingrich, A Greek Lexicon of the New Testament and Other Early Christian Literatures (Chicago & London: The University of Chicago Press, 2nd  Ed., 1979), hlm. 531.
[6] Morgan, The Corinthians Letter, hlm. 31-32, bnd. Barrett, The First Epistle to the Corinthians, hlm. 54-55.
[7] Lht. Barrett, The First Epistle to the Corinthians, hlm. 60

Tidak ada komentar:

Posting Komentar