Terima Kasih Anda Telah Berkunjung di Blog Obet Nego Y. Agau

Jumat, 28 Februari 2014

Perjanjian Lama dalam Pendidikan Agama Kristen. oleh. Mahasiswa STT GKE Banjarmasin.

MAKALAH
KELOMPOK I
Perjanjian Lama dalam Pendidikan Agama Kristen
Mata Kuliah : Pendidikan Agama Kristen 1
Dosen Pengampu : Pbrt. Tulus Tu’u S.Th, M.Pd

Di buat Oleh :
Eva Siska Anggriana
Lisa Elvira
Purnama Malonda
Ripaldi
Triwani
Yusanamayati
Markus Aria Dinata
Sekolah Tinggi Teologi
Gereja Kalimantan Evangelis
Banjarmasin, September 2013
Pendahuluan

Pendidikan Agama Kristen merupakan suatu pendidikan iman Kristen yang sangat penting. Bagi kita sebagai calon-calon hamba Tuhan ataupun bagi individu-individu yang tertarik dan ingin ikut terlibat dalam kehidupan umat Percaya. Kehidupan umat Kristiani memfokuskan diri dan keimanan pada penyataan Yesus Kristus sebagai Allah Penebus dan Juruselamat satu-satunya.
Berangkat dari hal tersebut kelompok pada saat ini menyajikan sebuah makalah yang berisi tentang pendidikan agama Kristen yang berkembang pada Perjanjian Lama. Seperti yang kita ketahui, kehidupan umat dalam Perjanjian Lama terkenal dengan budayanya yang disebut Patriakal. Budaya ini berkembang dalam kehidupan masyarakat pada saat itu yang dikenal dengan orang-orang Yahudi. Jadi secara tidak langsung pendidikan agama Kristen dalam Perjanjian Lamapun mengarah pada pendidikan Agama umat Yahudi pada saat itu.
Baik untuk lebih jelasnya, kita dapat bersama-sama melihat pada halaman selanjutnya.
Pembahasan
I.                  Dasar Teologi Pendidikan Agama Yahudi
Sejarah perkembangan pendidikan agama Yahudi dapat dibagi dalam dua zaman yang pokok. Zaman pertama dimulai pada saat terbentuknya bangsa Israel dan berjalan terus sampai tahun 586 SM, yaitu kejatuhan kerajaan Yehuda dan pembuangan kaum elitnya ke Babel. Zaman kedua mulai dengan pembuangan dan diteruskan sampai permulaan gerakan Kristen.

1.                  Permulaan Bangsa Israel Sampai Pembuangan Ke Babel.

Bangsa Israel (Ibrani) berasal dari salah satu suku semit yang terlibat dalam perpindahan umum yang terjadi kurang lebih 4000 tahun yang lalu di daerah barat daya Asia. Tekanan atas salah satu suku dekat “tapal batasnya” oleh kaum gembala dan kemudian oleh tentara suku lainnya condong mendorong anggota-anggota suku pertama itu berpindah tempat. Dalam proses itu, suku yang sedang berpindah tempat tersebut mulai menambah tekanan atas anggota-anggota suku lain lagi dan demikian seterusnya. Rupanya sekitar tahun 2000 SM, sebagian dari salah satu di bawah pimpinan Abram bersama semua harta miliknya berpindah tempat dari daerah sekitar sungai Tigris dan Efrat ke negri Kanaan, jauh ke Barat. Peristiwa perpindahan itu tidak begitu luar biasa dan cendrung diulang ribuan kali dalam sejarah manusia. Tetapi dari segi iman suku yang di pimpin oleh Abram, perpindahan tersebut bukanlah sesuatu yang biasa. Perpindahan itu terjadi karena Allah memanggil Abram untuk meninggalkan tanah airnya Ur berikut semua teman-temannya yang ada di sana dan semua lambing keamanan untuk mengembara ke tempat yang belum mereka ketahui.

·                    Bangsa yang terpilih : berdasarkan panggilan Allah kepada Abram dan ia menjawab dengan imannya, maka keturunannya dinamakan bangsa yang terpilih. Dipilih karena anugerah Allah semata, bukan kerena hasil perbuatannya. Dipilih untuk melayani dan menjadi berkat bagi sesama.
·                    Penyataan : Allah dengan kehendak-Nya menyatakan diri kepada manusia pada saat-saat tertentu. Orang Yahudi cendrung bersandar kepada Tuhan yang menyatakan diri-Nya melalui firmanNya, peristiwa-peristiwa sejarah, dan perbuatan-perbuatan yang ajaib.
·                    Ajaran tentang manusia : manusia di ciptakan menurut gambar Allah, untuk memelihara lingkungan hidup menaati perintah penciptanya, dan hidup dengan setia sebagai anggota umat terpilih atau kawan sekerja perjanjian Allah. Manusia adalah mahkluk khusus yang mampu mengambil keputusan dalam hidupnya.
a.                  Tujuan Pendidikan Agama Yahudi
Melibatkan angkatan muda dan dewasa dalam sejumlah pengalaman belajar yang menolong mereka mengingat perbuatan-pebuatan ajaib yang di laksanakan Allah pada masa lampau, serta membimbing mereka mengharapkan terjadinya perbuatan sama dengan penyataan di tengah-tengah kehidupan mereka guna memenuhi syarat-syarat perjanjian, perjanjian baik yang berkaitan dengan kebaktian keluarga dan seluruh persekutuan maupun yang mencakup pelaku yang sesuai dengan kehendak Tuhan, sebagaimana Ia dipaparkan dalam urusan sosial dan pemeliharaan ciptaan yang dinamakan baik oleh Tuhan.
b.                  Pengajaran-pengajaran
            Praduga utama yang menyoroti semua pemikiran dan perilaku agama Yahudi tidak lain dan tidak bukan Allah yang memprakarsai, Allah yang berjalan di depan mereka, Allah yang memperlengkapi mereka dengan keterampilan dan pengetahuan yang diperlukan untuk melaksanakan isi panggilan-Nya. Begitu pula dari segi pengalaman umat Israel, Tuhanlah pengajaran yang utama
            Dialah pula yang mempercayakan kesempatan mengajar itu kepada empat golongan pemimpin pada umumnya dan kepada orang khususnya. Di antara empat golongan tersebut, yang pertama ialah Kaum imam yang melayani Allah dan jemaatnya melalui suatu sistem pemberian korban yang mulai dikembangkan pada waktu para pengungsi dari Mesir itu didikan di padang belantara Sinai. Dengan jalan mengorbankan nyawa lembu, kambing, domba, para iman menarik perhatianya umatnya pada kenyataan dosa sebagai kenyataan yang memisahkan manusia dari Tuhan yang kudus. Menurut pengertiannya dosa tidak dapat dihapuskan kecuali dengan mengorbankan nyawa makhluk yang berharga. Disamping mengajarkan umat dengan dosa dalam hal ini juga mengajarkan umat antara korban dan pengampunan, juga diajarkan bahwa Allah tidak boleh didekati manusia begitu saja. Dialah Allah yang menciptakan langit dan bumi beserta segala isinya dan dia mengetahui segala sesuatu yang dilaksanakan manusia.
            Selain Imam keberadaan Nabi juga terjadi jauh kemudian, yaitu sekitar permulaan kerajaan Israel, ketika kekuasaan raja dilembangkan secara tertib. Pada mulanya mereka rupanya hidup berkelompok di luar kota. Pada waktu tertentu mereka turun dari gunung dan dipenuhi semangat dan kegembiraan luar biasa. Dalam keadaan hebat itu mereka menubuatkan terjadinya peristiwa menentukan tempat dimana benda yang hilang dapat ditemukan kembali. Sehabis Saul di urapi Samuel sebagai Raja , Samuel meramalkan sejumlah peristiwa yang akan dialami Saul nanti dengan maksud meyakinkan Saul akan pemilihannya sebagai raja oleh Tuhan.
            Golongan pengajar ketiga adalah kaum bijaksana , pegajaran ini dapat kita baca dalam kitab Amsal, pengkhotbah, dan Ayub. Disitulah diajarkan baik yang muda maupun yang setengah tua tentang makna kehidupan yang paling kaya.
c.                   Kurikulum
            Sejarah yang diingat merupakan kurikulum utama bagi pendidikan agama Yahudi. Keterlibatan Allah dalam urusan mereka sangat mengherankan. Mengapakah justru merekalah yang dipilih.? Tidak ada jawaban memuaskan selain daripada “ Anugerah” saja yang hendaknya dibalas dengan kesetiaan

2.         Pembuangan ke Babel dan Permulaan Zaman Masehi
a.         Dasar Teologi Baru Untuk Pendidikan Agama Yahudi
Persoalan bagi mereka yang terpaksa pindah ke tempat yang jauh dari tanah airnya yang tercinta itu terungkap dalam keluhan,”mengapakah milik Allah dapat diperlukan seperti ini?”. Berangsur-angsur para pemimpin Yahudi di Babel mulai mengembangkan teologi baru dari abu bencana yang sedang menimpa mereka bersama.
Nabi-nabi yang bernubuat di Israel (kerajaan utara) dan Yehuda (kerajaan Selatan) bersatu dalam mengumumkan hukuman yang akan dijatuhkan atas para warga yang bertindak tidak adil, tetapi khususnya atasan tidak memperdulikannya. Kemudian selama di Babel umat menyatakan hukuman yang dulu dianggap mustahil. Teologinya mulai mencakup baik statusnya sebagai bangsa terpilih maupun hukuman yang seharusnya dijatuhkan Allah atas diri mereka  semua peraturan sebagai akibat melanggar Hukum Taurat alasan utama mengapa pendididkan agama Yahudi di Babel dan kemudian di tanah airnya sendiri mulai menitikberatkan pentingnya menaati semua peraturan yang berhubungan dengan kebaktian di Bait Allah.
Sejajar  dengan tekanan atas seluk beluk Hukum Taurat yang bersangkutan dengan nampaknya pikiran lain lagi merangkum gagasan yang bukan memenuhi isi setiap peraturan agamawi melainkan untuk menyelamatkan orang-orang lain dengan jalan menderita demi kepentingan mereka sebagai hamba Tuhan mereka belajar menyadari identitas mereka selaku  milik Tuhan dan umat Allah. Sebagai akibatnya maka musuhnyapun  tidak dibinasakan malahan diselamatkan melalui kasih yang nyata dalam kerelaannya untuk menderita. Demikianlah pandangan Yesaya dari Babel.
Pendekatan Yesaya dari Babel itu merupakan sebagian dari isi pendidikan agama Yahudi. Antara lain, itulah sebabnya mengapa Yesus sendiri memilih pendekatan pelayanan yang lebih dekat dengan tradisi kaum nabi ketimbang kaum imam. Dalam memilih gaya melayani, Ia lebih terbuka terhadap nyawa-Nya yang perlu dikurbankan dalam prosesnya demi keselamatan orang banyak, dan dia tidak pernah menolak kebaktian yang berlangsung di rumah ibadat dan yang merayakan peristiwa ajaib dalam sejarah umat Yahudi. Penyataan itu merupakan firman hidup yang dimuarakan Tuhan melalui sejumlah juru bicara yang dipilih Tuhan atau melalui peristiwa-peristiwa alamiah atau sejarah yang ditafsirkan orang-orang yang setia sebagai amanat dari Tuhan. Isi Firman tersebut disampaikan turun-temurun secara lisan. Beberapa Rabi (guru) mulai mengatakan bahwa Taurat itu sudah ada sebelum dunia itu diciptakan. Meskipun pandangan itu tidak sesuai dengan kenyataannya, yaitu bahwa keberhasilan Taurat dan nubuat adalah hasil pergumulan orang-orang yang setia melawan lingkungan sekitarnya di bawah bimbingan Tuhan. Di samping itu para rabi mulai juga berangsur-angsur menerapkan peraturan-peraturan tertentu sehubungan dengan keadaan-keadaan yang baru.
            Melalui Misyna penafsirannya, para guru Yahudi mengutamakan bahwa penyataan tertentu dapat disesuaikan dengan kemampuan setiap orang termasuk anak-anak, tanpa mengubah intinya. Dengan kata lain, Hukum Taurat itu dapat diucapkan melalui kata-kata yang dipahami anak-anak tanpa mengurangi maknanya. Menurut Sherrill pemahaman itu merupakan salah satu gagasan yang paling maju dalam sejarah perkembangan Yahudi. Menurut Rabi Hiya anak-anak dapat dibagi dalam empat golongan yang bijaksana-serius; nakal-kurang-serius; kurang mampu dan belum dapat berbicara.
Suatu asas juga diusulkan oleh Misyna yaitu agar orang-orang mempelajari isi Taurat dengan jalan mengamalkan atau menaatinya. Maksud orang-orang Yahudi bukan untuk memisahkan perilaku yang berbudi dari Taurat. Perilaku yang berbudi menurut ukuran manusia mungkin boleh dipuji, tetapi maksud kehidupan Yahudi bukanlah untuk mendapat persetujuaan manusia melainkan untuk menaklukkan dirinya di bawah perintah dan jalan Tuhan.
b.         Lembaga-lembaga Pendidikan dalam Agama Yahudi
Pendidikan dalam agama Yahudi suatu hal yang sangat penting. Obyek utama dalam pendidikan mereka adalah mempelajari Hukum Taurat. Peranan orangtua merupakan bagian yang mendukung perkembangan anak-anak Yahudi. Sempat terjadi suatu masa suram dalam kehidupan umat Yahudi sesudah pembuangan Babel. Lambat-laun kemampuan orangtua mendidik anaknya menurun, dengan akibat bahwa iman Yahudi dicampur-baurkan dengan unsur agama yang bukan Yahudi. Masalah yang terjadi pada umat Yahudi pada saat itu juga tidak jauh berbeda dengan yang dialami oleh mereka yang masih tinggal di Babel. Masalah ini disebabkan karena persoalan bahasa pada saat itu, bahasa Aram mulai menggeser bahasa Ibrani sebagai bahasa utama yang dipakai. Hal ini mau tidak mau membuat Taurat harus diterjemahkan ke dalam bahasa Aram (lih. Nehemia 8:1-8).
Hancurnya Bait Allah pada saat itu membuat orang-orang Yahudi berkumpul dan berdoa, serta mendengarkan Taurat dalam rumah ibadat  yang disebut Sinagoge. Sinagoge merupakan lembaga tertua yang terus menerus kebutuhan masyarakat tertentu. Sinogoge hadir sebagai suatu wadah yang berusaha menggantikan kerinduan umat pada saat itu yang ingin beribadah di Bait Allah di Yerusalem. Menurut Sherrill, “Rumah ibadat Yahudi itu boleh dinamakan salah satu lembaga pendidikan luar biasa yang dengan tepat sesuai dengan hakikat agama dalam mana ia ditanamkan.”. Dalam bahasa Yunani Sinagoge berarti suatu kumpulan orang-orang. Seorang sarjana Yahudi bernama Philo berkata bahwa Sinagoge merupakan suatu tempat dimana pengajaran disampaikan.
Pendidikan dalam rumah ibadat pada saat itu merupakan suatu bentuk pengajaran tentang hal-hal yang bersifat agamiah. Dalam kebaktian dalam Sinagoge ini dibagi atas lima bagian yaitu
1)      Shema, yang berisi semacam pengakuan iman. Prinsip pendidikan agama Yahudi berpusat paa Ulangan 6:4-9. Dan, Ayat yang ketujuh ini dipakai sebagai PONDASI KURIKULUM Pendidikan Agama Kristen.
2)      Doa
3)      Pembacaan Hukum Taurat
4)      Pembacaan Nubuat
5)      Bagian terakhir adalah Berkat yang diucapkan oleh pemimpin.
Dengan adanya rumah ibadat untuk mengajar orang dewasa, maka mulailah didirikan sekolah rumah ibadat untuk mendidik angkatan muda secara tertib. Ini diawali dengan pendirian sebuah sekolah dasar (Beth-Hasepher artinya rumah buku) pada tahun 75 SM oleh Rabi Simson ben Syatakh. Awalnya gagasan ini tidak terlalu menjadi perhatian khalayak ramai. Namun, setelah kurang-lebih seratus empat puluh tahun, sistem perkuliahan berangsur-angsur mulai dikembangkan. Khususnya pada waktu keputusan Imam AgungYosua ben Gamala memerintahkan setiap Kabupaten dan Provinsi untuk mendirikan Sekolah Dasar bagi kaum muda. Dalam rencananya, setiap guru mengajar dua puluh lima anak laki-laki sekaligus. Apabila terjadi pertambahan sampai dengan empat puluh anak, seorang guru penolong harus diangkat. Dan jika sampai lima puluh anak maka harus ada seorang guru tetap lagi yang ditugaskan. Bahan-bahan pengajaran yang diajarkan pada saat itu adalah Hukum Taurat. Hal yang sangat mengesankan pada saat itu adalah guru yang ada tidak menerima gaji layaknya guru-guru saat ini. Namun, guru merupakan profesi yang sangat dihargai, seringkali ia menerima berkat-berkat yang diberikan masyarakat setempat. Seorang guru wajib memiliki keahlian dalam Taurat sebelum ia mengajar dan diwajibkan harus sudah menikah. Sekitar abad kedua Masehi, pemberian gaji mulai dipikirkan dan dilakukan bagi guru pada saat itu serta mendapat kebebasan dalam hal pembayaran pajak. Pendidikan di Beth-Hasepher ini dimulai ketika anak beranjak berusia enam tahun. Mereka diajarkan untuk mempelajari bahasa Ibrani, Taurat, nubuat dan tulisan-tulisan lain seperti Mazmur. Pada usia sepuluh tahun mereka diharapkan sudah mampu mampu membaca kesluruhan Perjanjian Lama dalam bahasa Ibrani.
Tahap lembaga pendidikan selanjutnya adalah Beth Talmud yang berarti rumah Talmud, atau pada saat sekarang setingkat dengan SMP. Di sana mereka diajarkan untuk mengerti Misyna, yaitu suatu penafsiran tentang isi Taurat. Di samping itu dipelajari juga Misyna, Talmud dan Haggadah atau dikenal juga dengan Taurat lisan. Materi lain yang diberikan adalah ilmu hitung, ilmu bintang, ilmu hitung, ilmu bumi dan ilmu hayat sebagai tambahan dalam pembelajaran. Murid-murid diajarkan untuk dapat berpikir secara logis atau lebih tepatnya diajak untuk bersama-sama mengkritisi isi dari penafsiran yang dibuat pada Rabi.Dua lembaga pendidikan Yahudi yang ada pada saat itu sangatlah penting bagi mereka. Kebanyakan laki-laki Yahudi pada saat itu sudah mampu membaca dan menulis.
c.         Gaya Mengajar di Sekolah Yahudi
Metode pengajaran dalam pendidikan Yahudi menitikberatkan pada penghafalan. Pertama-tama anak diajar untuk menghafal 22 huruf  Ibrani. Kemudian beberapa huruf dihafal dengan rangkaian dengan huruf-huruf lain yaitu kata-kata. Pada saat itu huruf  vokal masih belum dimanfaatkan. Metode pengajaran yang digunakan dalam penyampaian Agama dalam Perjanjian Lama, antara lain :
1.      Metode menghafal ( Ulangan 6 :4-9 , Amsal 22:6, Mazmur 119 :11,105)
2.      Metode bercerita (Yosua 4:6-7 ,bandingkan Keluaran 12:24-27).
                  Berbagai metode lain juga digunakan oleh guru misalnya menempatkan seorang murid yang  dinilai kurang dalam segi intelektual dekat dengan dengan seorang anak yang rajin dan pintar. Atau anak yang memiliki prestasi diminta untuk mengajar teman-temannya lain yang terbelakang. Bahan pelajaran juga kadang-kadang dinyanyikan oleh para murid. Perdebatan juga digunakan untuk membuat para murid semakin kritis dalam berpikir.
d.         Para Pelajar
Pada masa itu tidak ada tempat bagi pendidikan anak-anak perempuan, kecuali keterampilan yang diajarkan ibunya untuk dapat melaksanakan tugas-tugas khusus wanita dan contohnya seperti keterampilan dalam memasak dan pekerjaan-pekerjaan rumah lainnya. Mengapa pada masa itu tidak diadakan pendidikan khusus bagi kaum perempuan? Karena kaum-kaum perempuan pada masa itu dianggap kurang mampu untuk melakukan atau memikirkan hal-hal yang bermakna. Oleh karena itu mengapa pendidikan juga diperlukan pada masa itu? Tentang usaha-usaha pengkhotbah mencari orang-orang yang mampu dan bijaksana saja, kesimpulannya ialah “ Ku dapati seorang laki-laki di antara seribu, tetapi tidak kudapati seorang perempuan di antara mereka” (Pkh 7:26). Tetap lebih parah lagi, watak perempuan terisi dengan keinginan menjatuhkan laki-laki (Pkh 7:26).
            Para laki-laki pada zaman PL merasa sangat bangga karena telah dilahirkan sebagai laki-laki, karena kedudukan seorang laki-laki pada masa ini sangat jauh dari kedudukan perempuan. Maka tidak mengherankan lagi jika mendengar para pria dewasa yang saleh memanjatkan doa yang teramat angkuh dan picik, karena mereka merasa bahwa mereka yang paling layak di hadapan Tuhan di bandingkan dengan kaum perempuan.
            Ben:Azzai, seorang bujangan, berpendapat bahwa seorang ayah wajib mengajarkan Taurat kepada anak perempuan. Sungguhpun anak-anak perempuan tidak memperoleh tempat dalam sistem persekolahan Yahudi, namun di sana-sini, mesti ada seorang ayah atau suami yang lebih sayang kepada anaknya atau isterinya dan berusaha mengajarnya. Jika pengajaran tidak dilakukan oleh seorang ayah, bagaimana caranya menjelaskan pelbagai Amsal yang mengayang dijanjikan, permulaan kerajaan dan kesaksian para kaum nabi tentang kecenderungan umat Israel yang menyeleweng persyaratan yang termuat dalam perjanjian. Dalam pokok tersebut tersirat pula bimbingan menuju perilaku yang sesuai dengan panggilan umat Israel.
            Mulai dengan dampaknya yang hebat atas diri kaum Israel sebagai akibat pembuangannya ke Babel sampai permulaan zaman Masehi, pendidikan agama Yahudi berkaitan secara khusus dengan empat pokok:
1)      Dasar teologi baru yang mencakup peninjauan ulang statusnya sebagai bangsa yang terpilih dan penyataan.
2)      Karena mereka jauh dari Bait Allah yang ada di Yerusalem, yaitu pusat kebaktiannya, dan karena ketidakmampuan orangtua untuk memenuhi mandatnya untuk mengajar, umat Allah di Babel mengembangkan rumah ibadah dan sekolah. Yang pertama merupakan prakarsa yang sama sekali baru dalam sejarah agama, dalam arti pada pertama kalinya pendidikan berkaitan dalam ritus peribadahan. Tentang sekolah tersebut terdapat dua taraf pokok, yaitu sekolag dasar (Beth-Hasepher) dan sekolah menengah pertama (Beth Talmud). Di dalamnya nampaklah penghargaan yang sungguh-sungguh terhadap kesempatn belajar dan rasa hormat terhadap jabatan seorang guru.
3)      Pendekatan pendidikan yang manusiawi dan yang mendasar banyak pada metode menghafal.
4)      Para pelajar yang dididik di sekolah ialah anak laki-laki saja, tetapi barang kali di berbagai tempat anak perempuan dididik dengan keterampilan dengan isi yang serupa dengan kesempatan yang di sediakan bagi anak laki-laki.

Penutup dan Kesimpulan

Pendidikan Agama Kristen merupakan suatu pendidikan yang tidak dapat kita pisahkan dari kehidupan kita saat ini, dari makalah yang kami sajikan tadi kita dapat melihat betapa besar peran perjanjian lama terhadap PAK. Perjanjian lama mengambil tempat sebagai dasar dari pendidikan agama Kristen masa kini.

Demikianlah makalah yang dapat kami sajikan, besar harapan kami makalah tersebut dapat semakin memperkaya kita dalam memahami kekristenan secara lebih lanjut.




Daftar Pustaka
Buku
Alkitab Terjemahan Baru.
Boehlke, Robert. R. Sejarah Perkembangan Pikiran dan Praktek Pendidikan Agama Kristen (dari Plato sampai Ig. Layola). Jakarta : BPK Gunung Mulia, 2009.
Nuhamara, Daniel. Pembimbing PAK. Bandung : Jurnal Info Media, 2007.
Internet
Dwi, Nanang. Makalah Hubungan Perjanjian Lama dengan Pendidikan Agama Kristen. Http://guruagamakristen.blogspot.com.
Klose, Jonjon. PAK dalam Perjanjian Lama. Internet.
Oeniyati, Yulia. Silabus PAK Anak (PAK Anak dalam Perjanjian Lama). Http://pepak.sabda.org.
Putrawan, Bobby.K. Perjanjian Lama dalam PAK. Http://bkputrawan.blogspot.com.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar